bytedaily - Dilansir dari jalopnik.com, pesawat luar angkasa Orion milik misi Artemis II NASA berhasil mendarat di lepas pantai San Diego pada 10 April lalu. Namun, pendaratan di laut ini menimbulkan pertanyaan mengapa Amerika Serikat memilih opsi tersebut, sementara Rusia secara konsisten melakukan pendaratan di darat.
Pendaratan di laut memiliki risiko tersendiri, seperti ombak besar yang dapat menyebabkan tenggelamnya wahana. Proses evakuasi astronot dari laut juga membutuhkan kapal milik Angkatan Laut AS dan helikopter, yang tentunya memakan biaya signifikan. Sebaliknya, pendaratan di darat akan mempermudah proses evakuasi astronot dan kapsul menggunakan truk dan mobil.
Menurut laporan tersebut, pemilihan metode pendaratan di laut oleh NASA disebabkan oleh berbagai kendala teknis dalam melakukan pendaratan presisi di darat. Wahana antariksa yang kembali ke Bumi meluncur dengan kecepatan sangat tinggi, mencapai Mach 35 untuk Orion. Penggunaan parasut saja hanya mampu menurunkan kecepatan hingga 20 mph sebelum menyentuh permukaan, kecepatan yang masih berpotensi menyebabkan kerusakan dan cedera jika menghantam objek padat.
Oleh karena itu, selama bertahun-tahun NASA memilih metode 'splashdown' di laut sebagai bantalan yang lebih aman. Keuntungan lain dari pendaratan di laut adalah toleransi kesalahan yang lebih besar. Jika terjadi penyimpangan beberapa mil dari titik pendaratan yang dituju, hal tersebut tidak akan menjadi masalah besar. Berbeda dengan pendaratan di darat, di mana kesalahan kecil dalam lintasan bisa berakibat fatal, seperti menabrak gunung atau bahkan kota.
Untuk mewujudkan pendaratan di darat, diperlukan area yang sangat luas, datar, dan tidak berpenghuni. Negara yang memiliki kondisi seperti itu dan berani menerapkan teknologi pendaratan di darat adalah Uni Soviet. Meskipun Rusia memiliki garis pantai yang panjang, sebagian besar berada di lingkaran Arktik dengan kondisi es dan cuaca buruk yang membuat pendaratan di air kurang ideal.
Solusi yang dikembangkan oleh insinyur Soviet, yang masih digunakan hingga kini oleh kosmonot Rusia, adalah penggunaan roket pengerem (retrorocket). Setelah parasut terakhir mengembang, Soyuz akan melepaskan pelindung panasnya. Di bawahnya terdapat enam retrorocket yang akan menyala sesaat sebelum mendarat, mengurangi kecepatan hingga hanya 3 mph sebelum menyentuh tanah. Mantan astronot NASA, Michael Lopez-Alegria, menggambarkan pengalaman ini seperti serangkaian ledakan yang diikuti tabrakan mobil, dan tidak terasa nyaman setelah lama berada di luar angkasa.
Sistem pendaratan Rusia ini memiliki kelemahan, yaitu selain risiko dan ketidaknyamanan, penambahan retrorocket dan bahan bakarnya menambah bobot wahana. Bobot menjadi kendala utama dalam penerbangan antariksa, karena semakin berat wahana, semakin besar pula roket dan bahan bakar yang dibutuhkan untuk lepas landas dari Bumi.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.