bytedaily - Melansir laporan dari themanufacturer.com, Piala Dunia FIFA 2026 diprediksi akan menjadi turnamen terbesar dalam sejarah, yang diselenggarakan di tiga negara, melibatkan 16 kota tuan rumah, dan diperkirakan akan menarik jutaan penggemar. Skala acara ini akan memberikan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada rantai pasok global.
Perusahaan yang terlibat dalam mendukung acara besar seperti ini akan menghadapi tantangan operasional yang signifikan, mulai dari perencanaan inventaris, perkiraan permintaan, pergudangan, hingga pengiriman di mil terakhir.
Menurut laporan tersebut, Piala Dunia 2026 akan menciptakan lonjakan permintaan yang sangat tidak dapat diprediksi. Dengan partisipasi 48 tim dan jumlah pertandingan yang lebih banyak dari turnamen sebelumnya, permintaan untuk merchandise diperkirakan akan berfluktuasi dengan cepat, sangat dipengaruhi oleh hasil pertandingan dan performa tim.
Rantai pasok akan menghadapi tekanan ganda dari lonjakan penjualan dan potensi pengembalian barang. Pengalaman dari acara seperti Euro 2024 menunjukkan bagaimana permintaan dapat melonjak drastis (penjualan jersey Inggris meningkat 1.300%), dan lonjakan serupa kemungkinan akan diikuti oleh volume pengembalian yang besar, menambah beban operasional.
Fleksibilitas operasional menjadi lebih krusial daripada sekadar kapasitas gudang. Gudang yang dirancang untuk permintaan stabil mungkin akan kesulitan menghadapi lonjakan jangka pendek. Kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat dalam hal inventaris, staf, dan proses pemenuhan pesanan menjadi lebih penting daripada memiliki operasi skala besar.
Oleh karena itu, teknologi dan otomatisasi semakin menjadi kunci. Pengecer dan penyedia logistik berinvestasi dalam otomatisasi seperti sistem 'goods-to-person', pemilahan robotik, dan perangkat lunak inventaris real-time untuk merespons perubahan permintaan dengan lebih cepat dan mempertahankan tingkat layanan.
Piala Dunia 2026, meskipun merupakan acara tunggal, menyoroti tantangan rantai pasok yang lebih luas. Laporan itu menyebutkan bahwa pengecer semakin menghadapi permintaan yang tidak terduga akibat siklus penjualan yang pendek, promosi, dan peristiwa viral. Rantai pasok yang mampu mengelola volatilitas secara efisien akan memperoleh keunggulan kompetitif.