bytedaily - Melansir dari ekonomi.republika.co.id, Presiden RI Prabowo Subianto berencana memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan komoditas strategis global dengan membentuk bursa mineral dan komoditas di dalam negeri. Kebijakan ini bertujuan agar Indonesia tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga mampu menentukan harga komoditas yang selama ini banyak diatur di pasar internasional.
Prabowo mengumumkan rencana pendirian Bursa Mineral dan Komoditas Strategis ini saat menyampaikan Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan di Kompleks Parlemen, Jakarta. Ia menyatakan bahwa Indonesia, sebagai produsen berbagai komoditas penting seperti kelapa sawit, nikel, timah, batu bara, emas, kopi, dan karet, perlu memiliki instrumen perdagangan sendiri untuk meningkatkan posisi tawar di pasar global.
Targetnya, bursa komoditas ini akan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027. Keberadaan bursa ini diharapkan menjadi fondasi pembentukan harga referensi Indonesia (Indonesia reference price) untuk komoditas ekspor utama. Pemerintah berupaya menciptakan pasar yang dalam, transparan, likuid, dan terpercaya bagi pelaku perdagangan internasional, sehingga semua pihak mulai dari produsen hingga investor dapat bertransaksi dalam satu sistem yang transparan.
Selain itu, pemerintah juga akan melanjutkan reformasi pasar modal melalui demutualisasi. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan standar pasar modal Indonesia ke tingkat internasional dan membuka peluang bagi perusahaan rintisan serta pelaku usaha nasional untuk mendapatkan pendanaan tambahan dan mengembangkan skala bisnis mereka. Prabowo meyakini demutualisasi akan membawa pasar modal Indonesia ke standar dunia dan menjadikannya salah satu yang terbesar di dunia.