bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Presiden Prabowo Subianto mengemukakan bahwa salah satu faktor utama pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat adalah terus mengalirnya kekayaan nasional ke luar negeri selama beberapa dekade.
Menurut Prabowo, meskipun Indonesia mencatat surplus perdagangan dan meraih keuntungan signifikan dari aktivitas ekonomi internasional, sebagian besar keuntungan tersebut tidak tertahan di dalam negeri. Dana tersebut mengalir kembali ke luar negeri dalam bentuk arus modal dan aliran kekayaan lainnya.
"Kalau sekarang ada yang mengatakan rupiah kita lemah, ini dan itu, ya karena kekayaannya keluar. Kalau darah kita tiap hari darah kita keluar, di ujungnya badan kita kolaps, mati," ujar Prabowo di Bangkalan, Jawa Timur, pada Selasa (23/6).
Pernyataan ini disampaikan saat Prabowo memaparkan hasil analisis data perdagangan internasional dari United Nations Comtrade oleh Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia meraih keuntungan bersih dari perdagangan internasional selama 17 dari 22 tahun terakhir, dengan total keuntungan mencapai US$436 miliar atau sekitar Rp7.790,01 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.867 per dolar AS).
Namun, dalam periode yang sama, tercatat arus dana keluar dari Indonesia sebesar US$343 miliar atau setara Rp6.134,14 triliun. Fenomena ini, yang disebut Prabowo sebagai 'net outflow of national wealth', menyebabkan manfaat ekonomi yang tersisa di dalam negeri menjadi lebih kecil, meskipun Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan terus menghasilkan surplus.
Pernyataan Prabowo ini muncul di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Pada penutupan perdagangan Selasa (23/6) sore, rupiah berada di level Rp17.859 per dolar AS, melemah 16 poin dari penutupan sebelumnya. Pelaku pasar juga masih mencermati faktor eksternal yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk penguatan dolar AS di pasar global.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih berpotensi berada di bawah tekanan akibat penguatan dolar AS. Investor dikatakan masih menanti perkembangan pembicaraan damai antara AS dan Iran serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).