bytedaily - Melansir dari ekonomi.republika.co.id, harga emas diprediksi akan bergerak dalam rentang Rp 2,55 juta hingga Rp 2,78 juta per gram pada pekan mendatang. Pergerakan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Sebagai gambaran, pada penutupan perdagangan pekan ini, harga emas dunia berada di level 4.174 dolar AS per troy ons, dengan harga di pasar domestik tercatat Rp 2,67 juta per gram. Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan bahwa jika terjadi koreksi, level support pertama harga emas adalah 4.100 dolar AS per troy ons, atau setara dengan Rp 2,65 juta per gram.
Lebih lanjut, Ibrahim menambahkan bahwa jika harga emas mengalami pelemahan lebih lanjut, level support kedua berada di 4.000 dolar AS per troy ons, yang berarti harga logam mulia akan berada di kisaran Rp 2,55 juta per gram. Sebaliknya, jika harga emas menguat, level resisten pertama diprediksi mencapai 4.248 dolar AS per troy ons, dengan harga logam mulia di angka Rp 2,69 juta per gram.
Apabila penguatan harga emas berlanjut, Ibrahim memperkirakan level resisten kedua bisa mencapai 4.348 dolar AS per troy ons, yang akan menempatkan harga logam mulia pada Rp 2,78 juta per gram. Ibrahim juga memberikan proyeksi untuk komoditas lain, di mana harga minyak dunia diperkirakan akan berada di kisaran 64,70 dolar AS per barel jika terkoreksi, mendekati level 60 dolar AS per barel. Sementara itu, level resisten untuk harga minyak adalah 72,10 dolar AS per barel.
Untuk indeks dolar AS, Ibrahim memprediksi pergerakannya pada pekan depan akan berada di antara 100 hingga 102. Sementara itu, nilai tukar rupiah diprediksi akan berada dalam rentang Rp 17.850 hingga Rp 18.100 per dolar AS.
Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa sentimen utama yang akan memengaruhi pergerakan harga emas pada pekan depan meliputi dinamika geopolitik, kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat, serta keseimbangan antara permintaan dan penawaran (demand and supply). Ia menyoroti situasi pasca-nota kesepahaman antara AS dan Iran yang membuat Selat Hormuz lebih aktif dan berpotensi menyebabkan kelebihan pasokan (oversupply) dalam pengiriman minyak mentah.