bytedaily - Menurut informasi dari ekonomi.republika.co.id, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen diprediksi tidak akan mengganggu proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Aktivitas ekonomi domestik diperkirakan masih mampu menjadi penopang laju pertumbuhan di atas 5 persen, meskipun terdapat tekanan pada nilai tukar rupiah dan peningkatan ketidakpastian global.
Chief Economist BTN, Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa keputusan BI menaikkan BI Rate bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengantisipasi risiko inflasi yang dipicu oleh gejolak eksternal. Ia menilai fundamental perekonomian domestik tetap kuat, dengan sejumlah sektor yang bergantung pada permintaan dalam negeri masih memiliki potensi pertumbuhan yang signifikan. Sektor-sektor tersebut mencakup pembangunan infrastruktur, perumahan, ketahanan pangan, energi, hilirisasi industri, serta ekspor sumber daya alam.
Myrdal menambahkan bahwa keberlanjutan investasi dan fungsi intermediasi perbankan yang terus berjalan menjadi faktor kunci yang mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional. BTN memproyeksikan ekonomi Indonesia dapat tumbuh sekitar 5,2 persen pada tahun ini, meski biaya pendanaan mengalami kenaikan. Kenaikan suku bunga dinilai perlu untuk meredam pelemahan rupiah yang berpotensi meningkatkan inflasi impor, terutama bagi sektor yang bergantung pada bahan baku, barang modal, dan komponen dari luar negeri.
Selain kenaikan suku bunga acuan, BI juga memperkuat bauran kebijakan moneternya melalui peningkatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), insentif swap lindung nilai untuk investor asing, pembukaan kembali fasilitas repo untuk perbankan, serta penguatan operasi moneter di pasar keuangan. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menjaga stabilitas pasar keuangan dan mengendalikan ekspektasi inflasi di tengah ketidakpastian global.
Namun, Myrdal mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga dapat memberikan tekanan pada sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya kredit dan daya beli masyarakat, seperti properti, konsumsi rumah tangga, dan usaha yang bergantung pada pembiayaan perbankan, jika suku bunga bertahan tinggi dalam jangka waktu lama. Oleh karena itu, keseimbangan antara menjaga stabilitas makroekonomi dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi menjadi perhatian utama dalam perumusan kebijakan moneter ke depan.
Myrdal memperkirakan ruang kenaikan suku bunga lanjutan akan terbatas jika tekanan eksternal mereda dan stabilitas rupiah terjaga. BI diharapkan tetap menjaga fleksibilitas kebijakan untuk merespons dinamika pasar global.