bytedaily
Rabu, 23 September 2026 - 17:42 WIB

Pusat Data AI Tingkatkan Konsumsi Listrik, Dunia Khawatir pada New York Climate Week 2026

Redaksi 23 September 2026 1 views
Pusat Data AI Tingkatkan Konsumsi Listrik, Dunia Khawatir pada New York Climate Week 2026
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, pertemuan New York Climate Week 2026 menyoroti kecerdasan buatan (AI) dan pusat data sebagai topik utama karena keduanya menyerap listrik dalam jumlah besar dan menimbulkan keprihatinan.

Pada Senin (21/9), para pemimpin internasional memulai rangkaian diskusi yang bertujuan mencari solusi cepat untuk perbaikan iklim, dengan menaruh harapan pada energi terbarukan. Pertemuan tersebut berlangsung bersamaan dengan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dihadiri pejabat tinggi pemerintah serta eksekutif bisnis, dimana isu pemanasan global tetap menjadi agenda meski tindakan konkrit masih jarang terwujud.

Menurut AP News, para pakar dan aktivis menilai pola pembicaraan yang belum menghasilkan aksi nyata perlu diubah, mengingat percepatan perkembangan AI, peningkatan konsumsi energi pusat data, lonjakan harga bahan bakar fosil akibat konflik di Iran dan Ukraina, serta bencana iklim yang baru-baru ini menimbulkan kerusakan signifikan di Asia.

Sebuah laporan yang diterbitkan pada 21 September oleh Planetary Boundaries Science Lab, bagian dari Potsdam Institute for Climate Impact Research, mengungkap bahwa dunia telah melampaui tujuh dari sembilan batas planet yang ditetapkan secara ilmiah untuk menjaga keseimbangan bumi.

Johan Rockström, Direktur Institut tersebut, menyatakan bahwa "Bumi sebagai pasien sedang tidak sehat" dan menambahkan bahwa manusia tidak hanya mengancam stabilitas dan ketahanan sistem pendukung kehidupan, tetapi juga berada di ambang batas yang dapat memicu konsekuensi tak dapat dipulihkan.

Edward Miliband, Sekretaris Negara Inggris, menegaskan bahwa peralihan ke energi bersih dan terbarukan kini menjadi kewajiban demi keamanan nasional, serta harus menjadi perhatian utama bagi menteri luar negeri, perdana menteri, dan pejabat energi serta pertahanan.

AI yang dijalankan pada pusat data dengan konsumsi energi dan air tinggi dianggap sebagai paradoks karena dapat memperparah perubahan iklim sekaligus menawarkan potensi solusi.

Helen Clarkson, CEO Climate Group yang menyelenggarakan New York Climate Week, menyebut dampak lingkungan AI dan pusat data sebagai "topik yang sangat hangat" di antara para peserta.

Simon Stiell, Kepala Bidang Iklim PBB, mengingatkan bahwa penggunaan energi berlebih oleh AI meningkatkan polusi dari batu bara, minyak, dan gas, serta menaikkan biaya energi bagi rumah tangga dan bisnis.

Eva Riesenhuber, kepala keberlanjutan Siemens, berpendapat bahwa AI sangat penting bagi umat manusia dan dapat membantu mengatasi perubahan iklim, sehingga perusahaan berupaya mengurangi dampak tersebut secepat mungkin.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.