bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, serangkaian gempa bumi dahsyat mengguncang tiga negara berbeda pada Kamis (25/6) WIB. Venezuela mengalami dua gempa kuat dalam waktu berdekatan, pukul 05:05 WIB. Gempa pertama bermagnitudo 7,5 berpusat di darat dekat Yumare dengan kedalaman 10 kilometer, dipicu oleh sesar geser. Hanya 39 detik berselang, gempa kedua bermagnitudo 7,2 terjadi sekitar 160 km barat Caracas. Kedua gempa ini menyebabkan kerusakan bangunan dan mendorong Presiden interim Venezuela, Delcy Rodriguez, mengumumkan keadaan darurat nasional.
Selanjutnya, pada pukul 05:30 WIB, Jepang bagian utara diguncang gempa bermagnitudo 6,9. Berbeda dengan gempa di Venezuela, episenter gempa Jepang ini berada di laut, sekitar 35 kilometer timur laut Kuji, dengan kedalaman 51,7 kilometer.
Sementara itu, di Amerika Serikat, gempa berkekuatan magnitudo 5,6 terjadi di California Utara pada Rabu (24/6) malam pukul 22.10 WIB. Gempa ini berpusat di darat dekat Redwood Valley dengan kedalaman sangat dangkal, yaitu 8,9 kilometer.
Menurut Dr. Lucy Jones, seismolog dari Institut Teknologi California, rentetan gempa dahsyat yang terjadi di ketiga negara tersebut tidak saling berkaitan. Ia menjelaskan bahwa gempa bumi terjadi pada sistem patahan dan batas lempeng yang berbeda, sehingga satu gempa tidak memicu gempa lainnya. Jones menambahkan bahwa gempa besar yang berjarak ribuan mil umumnya tidak meningkatkan kemungkinan terjadinya gempa besar di lokasi lain. Waktu kejadian gempa tersebut dianggap sebagai kebetulan, namun lokasinya berada di zona batas lempeng aktif yang rentan terhadap akumulasi tekanan selama puluhan hingga ratusan tahun. Gempa bumi besar merupakan bagian dari siklus alam di wilayah tersebut, meskipun prediksi waktu kejadiannya tetap sulit dilakukan.