bytedaily
Jumat, 03 Juli 2026 - 19:55 WIB

Restorasi Ekosistem Batang Toru Dimulai untuk Selamatkan Orangutan Tapanuli yang Tersisa 800 Ekor

Redaksi 18 Juni 2026 9 views
Restorasi Ekosistem Batang Toru Dimulai untuk Selamatkan Orangutan Tapanuli yang Tersisa 800 Ekor
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, upaya pemulihan Ekosistem Batang Toru telah memasuki tahap baru di Desa Aek Haminjon, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Program restorasi berbasis komunitas ini difokuskan pada lahan seluas 159 hektare yang terdampak bencana banjir dan longsor pada akhir tahun 2025. Inisiatif ini menjadi krusial untuk upaya penyelamatan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), spesies yang kini terancam punah dengan populasi global diperkirakan hanya mencapai 800 individu.

Menurut informasi dari cnnindonesia.com, program restorasi ini dijalankan melalui kesepakatan konservasi masyarakat yang disusun oleh Konservasi Indonesia bersama Sumatra Rainforest Institute (SRI), serta melibatkan partisipasi aktif penduduk lokal. Desa Aek Haminjon, yang memiliki luas 11.510 hektare, memiliki peran ekologis penting sebagai penyangga Cagar Alam Dolok Sipirok dan merupakan bagian dari Kawasan Keanekaragaman Hayati Kunci global.

Jeri Imansyah, Sundaland Program Director Konservasi Indonesia, menjelaskan kepada cnnindonesia.com bahwa model pengelolaan partisipatif ini dirancang untuk menyelaraskan target perlindungan habitat satwa liar dengan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat melalui sektor pertanian. Mayoritas warga Desa Aek Haminjon bergantung pada pertanian, perkebunan, dan hasil hutan untuk menopang hidup mereka. Lokasi ini sangat strategis untuk konservasi karena berbatasan langsung dengan Cagar Alam Dolok Sipirok di Blok Timur Ekosistem Batang Toru.

Jeri menambahkan, sebagaimana dikutip cnnindonesia.com, bahwa kawasan tersebut merupakan habitat kritis bagi Orangutan Tapanuli yang berstatus 'critically endangered' menurut IUCN. Restorasi ini menargetkan penanaman 35 ribu hingga 49 ribu batang komoditas utama seperti kopi, karet, cokelat, dan durian. Analisis citra satelit mengidentifikasi deforestasi seluas sekitar 11 hektare di wilayah perbatasan desa akibat aktivitas manusia dan penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan.

Lebih lanjut, Jeri menekankan pentingnya pemulihan wilayah Desa Aek Haminjon karena fungsinya yang vital sebagai habitat bagi berbagai satwa liar di zona penyangga kawasan konservasi, termasuk orangutan Tapanuli, harimau Sumatra, tapir, trenggiling, dan spesies lain yang memiliki nilai konservasi tinggi. Pelaksanaan restorasi akan dibagi menjadi dua zona: zona dengan tingkat gangguan tinggi yang memiliki tutupan lahan terbuka, dan zona dengan tingkat gangguan rendah berupa hutan sekunder yang memerlukan intervensi vegetasi.

Dony Saputra, Direktur SRI, menyatakan kepada cnnindonesia.com bahwa data survei sejak 2020 menunjukkan kehilangan tutupan hutan sebagai penyebab utama longsor, banjir, dan penurunan populasi satwa. Ia menambahkan bahwa intervensi pengayaan lahan perkebunan masyarakat ini merupakan strategi konservasi yang aman, karena memulihkan kualitas ekologi tanpa mengorbankan ketahanan pangan warga, sekaligus menegaskan komitmen masyarakat untuk menjaga batas cagar alam melalui hukum adat.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.