bytedaily - Menurut informasi dari cnnindonesia.com, sebuah roket China bernama Long March 7A dilaporkan meledak hanya beberapa detik setelah lepas landas, sebuah insiden yang jarang terjadi pada sistem peluncuran yang menjadi andalan program antariksa negara tersebut.
Rekaman video menunjukkan roket tersebut berubah menjadi bola api sekitar 85 detik pasca-peluncuran dari Pusat Peluncuran Antariksa Wenchang di Pulau Hainan pada Senin (10/8) malam. Roket Long March 7A dirancang oleh China Academy of Launch Vehicle Technology, yang merupakan bagian dari China Aerospace Science and Technology Corporation, kontraktor utama program luar angkasa China.
Peluncuran ini seharusnya menjadi misi ke-18 bagi Long March 7A. Roket ini sebelumnya hanya pernah mengalami satu kegagalan, yaitu pada penerbangan perdananya di tahun 2020. Upaya kedua pada Maret 2021 berhasil dengan baik.
Akibat kegagalan Long March 7A, peluncuran roket Zhuque-3 yang dijadwalkan pada Selasa pagi di stasiun peluncuran satelit Jiuquan terpaksa ditunda. Zhuque-3 dikembangkan oleh perusahaan swasta LandSpace dan merupakan upaya awal China untuk menciptakan roket peluncur yang dapat digunakan kembali. Roket ini mengalami masalah pada tahap pendorong pertama dalam penerbangan perdananya pada Desember 2025.
Berbeda dengan Zhuque-3, Long March 7A adalah roket tiga tahap yang tidak dirancang untuk dapat digunakan kembali. Roket ini memiliki panjang hampir 60 meter, dilengkapi empat pendorong, dan mampu membawa beban hingga tujuh metrik ton ke orbit transfer geostasioner (GTO), yang berada pada ketinggian sekitar 35.405 kilometer di atas permukaan Bumi.
Insiden kegagalan peluncuran ini tidak banyak diberitakan oleh media lokal China. Kantor berita Xinhua baru mengonfirmasi kegagalan tersebut tiga jam setelah jadwal peluncuran, menyatakan bahwa roket mengalami kelainan fungsi saat penerbangan. Pihak berwenang masih menyelidiki penyebab pasti insiden ini tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Di media sosial China, penyebaran video peluncuran sebagian besar dibatasi pada konten milik afiliasi pemerintah, sementara video yang diunggah oleh masyarakat dilaporkan dihapus atau dibatasi di platform populer seperti Xiaohongshu dan Douyin.
Presiden China Xi Jinping memiliki target menjadikan negaranya sebagai pemimpin dunia dalam ilmu pengetahuan luar angkasa pada tahun 2050. China saat ini bersaing ketat dengan Amerika Serikat dalam berbagai bidang, termasuk teknologi roket yang dapat digunakan kembali, penelitian Bulan, dan peluncuran satelit.
Elon Musk, pemilik SpaceX, turut berkomentar mengenai insiden ini, menyebutkan bahwa membuat roket adalah hal yang sangat sulit, mengingat pengalamannya sendiri dengan beberapa roket yang meledak setelah diluncurkan.