bytedaily - Mesin V8 yang identik dengan budaya otomotif Amerika, khususnya pada mobil _muscle car_, ternyata tidak berasal dari Amerika dan awalnya tidak dirancang untuk kendaraan darat. Dilansir dari jalopnik.com, Leon Levavasseur mematenkan mesin V8 pertama pada tahun 1902 dan menamainya 'Antoinette', yang ditujukan untuk kapal cepat dan pesawat terbang di Prancis.
Perkembangan mesin V8 untuk industri otomotif Amerika dimulai 12 tahun kemudian ketika Cadillac menjadi perusahaan mobil pertama yang mengadopsi mesin V8 secara massal melalui model L-head. Inovasi ini kemudian diikuti oleh produsen mobil Amerika lainnya, yang berhasil membuat mesin V8 terjangkau bagi masyarakat umum. Meskipun sempat menghadapi tantangan signifikan akibat krisis minyak pada tahun 1970-an dan regulasi emisi yang semakin ketat, mesin V8 berhasil bertahan dan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Amerika.
Pasca Perang Dunia II, seiring dengan bangkitnya kekuatan industri Amerika, mesin V8 berevolusi menjadi simbol performa yang kuat, berisik, dan khas Amerika. Momen penting dalam sejarah V8 di Amerika terjadi sebelum tahun 1930-an, ketika mesin ini masih dianggap barang mewah dan hanya bisa dimiliki oleh kalangan atas melalui mobil Cadillac atau Lincoln. Henry Ford kemudian berinovasi dengan menciptakan mesin V8 yang lebih terjangkau untuk dimasukkan ke dalam mobil yang lebih ekonomis. Lahirlah Ford Model 18 yang ditenagai oleh mesin _flathead_ V8, yang kemudian menjadi ikon dalam sejarah _hot rod_.
Mesin _flathead_ V8 yang terbuat dari blok besi cor ini dijual dengan harga antara $460 hingga $650, setara dengan sekitar $11.180 hingga $15.800 pada nilai tukar saat ini. Hal ini menjadi titik balik bagi mesin V8 di Amerika. Pabrik Ford mampu memproduksi 3.000 unit mesin _flathead_ V8 setiap hari, dan dalam 18 tahun produksi, lebih dari 15 juta unit terjual. Mesin ini juga mendominasi dunia balap, memenangkan berbagai kejuaraan dan mencatatkan kecepatan 109 mph di ajang Indy 500 tahun 1934.
Keunggulan utama mesin V8 ini adalah kemudahan perbaikan, penyetelan, dan modifikasi, yang semakin meningkatkan popularitasnya di kalangan penggemar otomotif dan para veteran perang. Mesin ini juga dianggap sebagai cikal bakal gerakan _hot rod_. Matt Anderson, Kurator Transportasi di The Henry Ford, menyatakan bahwa "hampir setiap bentuk balap mobil Amerika telah disentuh oleh Ford V-8." Namun, pengembangan yang terjadi selanjutnya benar-benar memantapkan posisi mesin ini selama beberapa dekade.
Memasuki tahun 1950-an, popularitas mesin V8 semakin meluas. General Motors, yang saat itu memandang mobil Chevrolet sebagai kendaraan untuk orang tua, berupaya mengubah citra tersebut. Pada tahun 1955, perusahaan meluncurkan mesin Chevrolet _small block_ V8. Konsepnya serupa dengan Ford, yaitu mesin V8 yang kecil, terjangkau, fungsional, dan ringan, namun mampu bersaing dengan mesin yang lebih bertenaga. Pada tahun 1957, mesin _small block_ ini dikembangkan lebih lanjut menjadi 283 inci kubik, menjadikannya salah satu mesin pertama yang mencapai rasio satu tenaga kuda per inci kubik.
Pada akhir 1950-an, citra Chevrolet berhasil diubah total menjadi merek yang menarik, berjiwa muda, dan berorientasi pada performa. Chevrolet bahkan terus berinovasi lebih jauh.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.