bytedaily - Dilansir dari jalopnik.com, sebelum adanya stasiun pengisian bahan bakar seperti yang kita kenal sekarang, masyarakat harus mencari bensin secara terpisah, biasanya dari toko umum atau kandang kuda, dan menuangkannya ke tangki kendaraan menggunakan filter tangan. Proses ini dianggap tidak praktis dan berbahaya.
Upaya pertama untuk membuat tempat pengisian bahan bakar khusus tercatat terjadi sekitar tahun 1905 di St. Louis, Missouri. Perusahaan Automobile Gasoline Co. mendirikan sebuah tangki yang diumpankan gravitasi di sebuah lahan, terhubung dengan selang taman. Meskipun masih kasar dan mudah bocor, ini merupakan langkah awal.
Namun, stasiun pengisian bahan bakar pertama yang dianggap sebagai cikal bakal stasiun modern adalah yang dibuka oleh Standard Oil of California (sekarang Chevron) di Seattle pada tahun 1907. Fasilitas ini dirancang khusus untuk mengisi bahan bakar mobil secara efisien. Menggunakan tangki galvanis berkapasitas 30 galon dengan selang dan pengukur kaca sederhana, stasiun ini menandai pergeseran signifikan dari sekadar membeli bensin di toko perangkat keras menjadi tujuan pengisian bahan bakar yang didedikasikan.
Seiring perkembangan pada tahun 1920-an, stasiun pengisian bahan bakar mulai berevolusi dari sekadar bangunan sederhana di sudut jalan menjadi elemen arsitektur yang menonjol. Perusahaan minyak menyadari pentingnya pengenalan merek untuk menarik loyalitas pelanggan. Era ini melahirkan desain stasiun bergaya pondok (cottage-style) yang dirancang agar menyatu dengan lingkungan perumahan. Perusahaan seperti Gulf, Pure Oil, Texaco, dan Shell tidak hanya bersaing dalam kualitas produk, tetapi juga dalam penampilan petugas pompa yang mengenakan seragam ala militer yang rapi.
Pada tahun 1940-an, stasiun layanan Amerika klasik mencapai puncaknya. Pengemudi tidak perlu mengisi bahan bakar sendiri; petugas akan melayani pengisian, memeriksa oli, air radiator, dan tekanan ban, sambil pengemudi tetap duduk di dalam mobil. Lingkungan layanan yang tinggi ini dirancang untuk memberikan pengalaman premium kepada setiap pelanggan.
Stasiun dengan desain ikonik mulai bermunculan, mulai dari gaya Art Deco yang ramping dengan sudut membulat dan lampu neon, hingga desain yang lebih unik seperti bentuk teko raksasa atau sepatu koboi di Seattle, Washington.
Pasca Perang Dunia II, lanskap stasiun bahan bakar kembali berubah. Tahun 1930-an memperkenalkan konsep stasiun swalayan (self-service), salah satunya oleh Frank Ulrich di Los Angeles pada tahun 1947. Frank menawarkan harga lebih murah dengan membiarkan pelanggan mengisi bahan bakar sendiri. Inovasi ini sempat kontroversial dan ditentang oleh pesaing serta beberapa negara bagian yang mencoba melarangnya demi melindungi bisnis stasiun layanan penuh. Akibat larangan tersebut, stasiun swalayan baru populer pada tahun 1960-an.
Dengan perluasan sistem jalan tol pada tahun 1950-an, stasiun bahan bakar mulai bergabung dengan toko kelontong menjadi pusat rekreasi modern (travel plaza). Perusahaan seperti Sunoco dan Esso (sekarang ExxonMobil) mengembangkan model bisnis 'one-stop shop'. Transformasi ini semakin lengkap pada tahun 1970-an dan 1980-an, di mana stasiun layanan tradisional digantikan oleh toko serba ada yang dilengkapi pompa bahan bakar.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.