bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sebuah studi terbaru telah memberikan petunjuk mengenai bagaimana kukang berevolusi menjadi mamalia dengan gaya hidup yang sangat hemat energi, menjadikannya hewan dengan pergerakan dan metabolisme paling lambat di dunia.
Tim peneliti melakukan analisis mendalam terhadap kukang berjari dua (Choloepus didactylus) dan membandingkannya dengan puluhan mamalia lain, termasuk trenggiling dan armadilo yang memiliki kekerabatan taksonomi.
Analisis tersebut mengidentifikasi sejumlah urutan DNA yang dikenal sebagai transposon atau "gen loncat". Urutan ini memiliki kemampuan untuk berpindah atau menyalin diri ke posisi baru dalam genom, dan memainkan peran penting dalam kisah evolusi hewan.
Bukti aktivitas transposon pada garis evolusi kukang terdeteksi membentang lebih dari 30 juta tahun ke belakang.
Para peneliti menemukan bahwa beberapa gen transposon terhubung dengan mitokondria dan gen lain yang terlibat dalam metabolisme. Camila Mazzoni, seorang ahli genomika keanekaragaman hayati dari Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research, Jerman, menyatakan bahwa temuan ini menunjukkan kukang mungkin telah mengembangkan "sistem cadangan" genetik untuk mengompensasi mitokondria mereka yang bekerja lambat, sehingga mendukung gaya hidup unik mereka.
Dengan kata lain, kebutuhan energi sel kukang yang rendah diduga memungkinkan akumulasi mutasi pada genom mitokondria mereka yang bergerak lambat. Gen loncat kemungkinan berfungsi sebagai mekanisme kompensasi dengan menciptakan jalur genetik alternatif agar hewan tersebut tetap berfungsi, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikannya.
Riset yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Biology ini menyebutkan bahwa beberapa urutan genetik ini telah lestari selama sekitar 30 juta tahun dan diperkirakan berasal dari nenek moyang bersama kukang modern, setelah kukang berpisah jalur evolusi dari trenggiling dan armadilo.
Mazzoni menambahkan bahwa kukang memiliki metabolisme paling lambat di antara semua mamalia namun tetap sehat. Memahami mekanisme ini dapat memberikan wawasan baru tentang cara sel mengelola energi secara efisien.
Temuan ini juga memiliki implikasi bagi kesehatan manusia, mengingat berbagai kondisi medis seperti diabetes, gangguan terkait penuaan, neurodegenerasi, dan penyusutan otot melibatkan masalah produksi energi dan fungsi mitokondria. Sebagai contoh, obesitas dapat memengaruhi mitokondria, dan gangguan pada organel ini dikaitkan dengan penyakit seperti Parkinson.
Pedro Galante, seorang ahli biologi molekuler dari Hospital Sírio Libanês, Brasil, berpendapat bahwa meskipun penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan, lini sel kukang dapat menjadi model alami untuk memahami bagaimana organisme bertahan dalam kondisi energi rendah dan apa yang terjadi ketika penyakit muncul. Ia menambahkan bahwa dalam jangka panjang, ini bisa menginformasikan riset tentang preservasi jaringan, perawatan kritis, penuaan, penyakit metabolik, bahkan perjalanan luar angkasa jarak jauh.
Para peneliti juga menyoroti bahwa perubahan DNA yang disebabkan oleh gen loncat dapat memicu kanker pada manusia, sehingga toleransi kukang yang tinggi terhadap mekanisme ini menjadi subjek penelitian yang menarik.
Marcela Uliano-Silva, seorang ahli bioinformatika dari Wellcome Sanger Institute, Inggris, menekankan bahwa evolusi telah melakukan miliaran eksperimen, dan dengan mempelajari hewan-hewan unik seperti kukang, solusi biologis yang tidak terduga terkadang dapat ditemukan.