bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026, menyusul keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Kebijakan ini dinilai memberikan sentimen positif bagi pasar dan memperkuat upaya stabilisasi nilai tukar di tengah tingginya ketidakpastian global.
Data pasar menunjukkan bahwa rupiah menguat 130 poin atau setara dengan 0,71 persen, mencapai posisi Rp18.058 per dolar AS pada akhir perdagangan. Angka ini lebih baik dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp18.188 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan rupiah sejalan dengan keputusan BI yang menaikkan BI-Rate menjadi 5,50 persen. Menurutnya, kenaikan ini merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak gejolak global akibat perang di Timur Tengah. Selain itu, kebijakan ini juga berfungsi sebagai langkah antisipatif untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang telah ditetapkan pemerintah.
Ibrahim menambahkan bahwa langkah BI juga bertujuan untuk meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik, yang diharapkan dapat mendorong masuknya kembali aliran modal asing ke Indonesia. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga acuan merupakan bagian dari strategi untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus meningkatkan imbal hasil investasi di pasar keuangan domestik.
Dalam evaluasi BI sejak Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 19-20 Mei 2026, Perry mengamati bahwa pergerakan rupiah cenderung lebih lemah dari perkiraan sebelumnya. Pelemahan ini tidak hanya dipengaruhi oleh gejolak global yang masih berlangsung, tetapi juga oleh tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri serta keluarnya sebagian dana investasi portofolio asing dari pasar domestik. Oleh karena itu, BI memandang perlu mengambil langkah lanjutan melalui kenaikan suku bunga dan instrumen moneter lainnya untuk menarik kembali aliran modal asing.
Dari sisi eksternal, pasar masih memantau perkembangan konflik di Timur Tengah. Laporan menyebutkan bahwa ketegangan antara Iran dan Israel mulai mereda setelah kedua pihak menghentikan serangan langsung dalam beberapa hari terakhir. Media Israel melaporkan bahwa Tel Aviv dan Washington telah menyampaikan pesan kepada Teheran bahwa tidak akan ada serangan lanjutan dari Israel selama Iran tidak kembali melakukan aksi militer. Kondisi ini membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong penguatan dolar AS.
Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan, mencapai Rp18.141 per dolar AS pada Selasa, dibandingkan posisi sebelumnya Rp18.171 per dolar AS.