bytedaily
Senin, 17 Agustus 2026 - 13:10 WIB

Taiwan Alami Serangan Siber Canggih Berbasis AI, Dugaan Keterlibatan China Muncul

Redaksi 16 Agustus 2026 4 views
Taiwan Alami Serangan Siber Canggih Berbasis AI, Dugaan Keterlibatan China Muncul
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Taiwan mendeteksi adanya serangan siber berskala besar yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) terhadap sejumlah institusi pemerintah pada bulan Juli lalu. Perusahaan keamanan siber asal Israel, Dream, mengindikasikan bahwa China diduga menjadi dalang di balik serangan tersebut.

Kementerian Urusan Digital Taiwan (MDA) mengklasifikasikan serangan ini sebagai insiden 'abnormal' yang berasal dari luar negeri, dengan deteksi awal terjadi pada 20 Juli. National Institute of Cyber Security dilaporkan telah mengeluarkan serangkaian peringatan selama proses investigasi berlangsung.

Meskipun pejabat Taiwan tidak secara langsung menunjuk China sebagai pelaku, tudingan ini datang dari Dream. Perusahaan tersebut mendeteksi serangan dan menduga adanya keterlibatan peretas yang terafiliasi dengan China. Dream tidak mengaitkan serangan ini dengan kelompok peretas tertentu, namun penggunaan bahasa Mandarin Sederhana dalam komunikasi internal yang terkait dengan peretasan menjadi indikator kuat adanya hubungan dengan China.

Dream menjelaskan bahwa para penyerang menggunakan agen AI sumber terbuka untuk mengembangkan alat peretasan otonom yang beroperasi layaknya tim siber terkoordinasi. Insiden ini digambarkan sebagai jenis pelanggaran pertama yang menggunakan metode tersebut. Alat peretasan ini dilaporkan berhasil membobol setidaknya 85 akun pengguna pemerintah dan mencuri lebih dari 2.500 catatan personel. Serangan tersebut kemudian meluas ke badan keselamatan nuklir Taiwan dan sedikitnya tujuh perusahaan energi.

MDA menyatakan bahwa investigasi menunjukkan serangan tersebut memiliki karakteristik yang jelas berasal dari luar negeri. Para peretas menggunakan kombinasi antara operasi manual dan serangan yang dibantu oleh agen AI, termasuk Open Claw. Kementerian tersebut mengonfirmasi bahwa sumber, metode, dan cakupan dampak serangan telah diselidiki secara menyeluruh, dan unit yang terdampak telah menyelesaikan penanganannya.

Menanggapi kejadian ini, pemerintah Taiwan telah menetapkan pedoman perlindungan baru dan memperkuat pemantauan sistem untuk menghadapi ancaman jenis baru ini. Namun, pernyataan resmi Taiwan tidak menyebutkan nama China. Kantor Urusan Taiwan China juga belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar terkait serangan siber ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, Taiwan telah berulang kali menuduh China melakukan 'perang hibrida', yang mencakup latihan militer di sekitar pulau, kampanye disinformasi, hingga serangan siber. Badan Keamanan Nasional Taiwan pada Januari lalu melaporkan peningkatan serangan siber China terhadap infrastruktur penting di Taiwan sebesar 6 persen pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya, dengan rata-rata mencapai 2,63 juta serangan per hari. Badan tersebut juga menyatakan bahwa sebagian serangan siber terjadi bersamaan dengan latihan militer sebagai bagian dari ancaman hibrida yang bertujuan untuk melumpuhkan Taiwan.

Ancaman serangan siber yang didukung AI dilaporkan semakin berkembang dalam beberapa bulan terakhir, seiring dengan dirilisnya model-model AI yang mampu melakukan pengintaian, mencari kerentanan, dan memanfaatkannya dengan cepat oleh berbagai laboratorium AI.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.