bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini menyetujui resolusi yang diusulkan oleh negara-negara anggota Uni Afrika (AU). Resolusi yang dinamai 'The Correct Map' ini bertujuan untuk mengganti penggunaan Peta Mercator yang telah digunakan secara luas selama lebih dari 450 tahun. Pemungutan suara di Majelis Umum PBB mengesahkan peta baru yang menampilkan ukuran benua Afrika secara proporsional sesuai dengan kenyataan.
Menurut informasi dari cnnindonesia.com, resolusi ini mendorong pemerintah, institusi pendidikan, dan perusahaan teknologi di seluruh dunia untuk menghentikan penggunaan Peta Mercator. Peta ini dikritik karena mendistorsi ukuran benua, khususnya membuat Afrika tampak jauh lebih kecil dari ukuran sebenarnya. Sebagai contoh, Peta Mercator menggambarkan Greenland memiliki ukuran yang hampir sama dengan Afrika, padahal Afrika sebenarnya sekitar 14 kali lebih besar dari Greenland.
CNNIndonesia.com mengutip dari Aljazeera, Peta Mercator dikembangkan oleh kartografer Gerardus Mercator pada pertengahan abad ke-16. Peta ini merupakan proyeksi silindris yang dirancang untuk mempermudah navigasi maritim dengan menggambarkan garis haluan, lintang, dan bujur sebagai garis lurus yang saling berpotongan tegak lurus. Namun, proyeksi ini memiliki kelemahan yaitu memperbesar daratan yang berada lebih dekat ke kutub.
Lebih lanjut, cnnindonesia.com menjelaskan bahwa laman ilmu pengetahuan alam Universitas Harvard menyebutkan cara kerja proyeksi Mercator adalah dengan memproyeksikan bayangan benua dari bola kaca ke layar silinder. Hal ini menyebabkan daratan di dekat khatulistiwa berskala akurat, sementara garis lintang yang lebih tinggi tampak jauh lebih besar. Akibatnya, Greenland terlihat seukuran Afrika.
Kritikus Peta Mercator, seperti yang dikutip Aljazeera, berpendapat bahwa peta ini secara visual melebih-lebihkan ukuran negara-negara Barat, yang diduga berkontribusi pada pelanggengan gagasan superioritas Eropa. Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey, yang memimpin resolusi ini, menekankan pentingnya peta yang adil sebagai awal dari dunia yang adil.