bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, melakukan komunikasi langsung dengan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menyusul adanya informasi terkait ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi ribuan pekerja di sektor industri keramik. Hal ini dipicu oleh lonjakan harga gas industri yang memberatkan operasional pabrik.
Kejadian tersebut berlangsung saat Dasco menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) di Jakarta. Sebelum menyampaikan pidatonya, Dasco menghubungi Dirut Pertamina untuk mendiskusikan persoalan harga gas industri yang menjadi perhatian utama para pekerja.
Dalam percakapannya yang disiarkan melalui pengeras suara, Dasco menyatakan, "Halo, Pak Dirut Pertamina, ini saya lagi di Rakernas KSPI. Ya, saya tadi ditanyakan mengenai masalah gas industri. Jadi, ini saya tadi sudah merancang pidato, cuma buyar semua gara-gara soal gas."
Menanggapi hal tersebut, Dirut Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menyatakan komitmennya untuk segera berkoordinasi dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk. "Siap Pak Dasco, saya tentunya akan segera berkoordinasi dengan pihak PGN. Dari kami tentunya berkomitmen untuk melakukan penyesuaian," ujar Simon.
Dasco mengungkapkan bahwa kenaikan harga gas industri berpotensi menyebabkan PHK terhadap sekitar 55 ribu karyawan di beberapa pabrik keramik yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat. Ia menaruh harapan besar agar solusi atas permasalahan ini dapat segera ditemukan.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, menambahkan bahwa harga gas industri dilaporkan mengalami kenaikan signifikan, dari 6 dolar AS menjadi 23 dolar AS per million metric british thermal units (MMBTU). Ia menyebutkan dua pabrik besar anggotanya di Bekasi, yaitu Granito, serta menyusul Milan Keramik dan Mulia Keramik, terpaksa menghentikan operasionalnya akibat persoalan gas ini.
Andi Gani juga menginformasikan bahwa KSPSI telah melakukan koordinasi dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, dan berharap ada titik terang dalam penyelesaian masalah ini dalam beberapa hari ke depan. Ia menyayangkan kondisi di mana Indonesia yang merupakan produsen energi terbesar justru mengalami kelangkaan pasokan gas di dalam negeri, sementara sebagian besar diekspor.