bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Presiden China Xi Jinping menyerukan peningkatan kemampuan dalam pencegahan, mitigasi, dan respons terhadap bencana alam. Seruan ini disampaikan menyusul serangkaian banjir dan longsor mematikan yang melanda China sepanjang musim panas tahun ini.
Pernyataan Xi Jinping dipublikasikan pada Sabtu (15/8) melalui Qiushi, sebuah jurnal yang merupakan saluran utama pesan Partai Komunis China. Pernyataan tersebut merupakan kutipan dari pidato yang disampaikan dalam sesi belajar Politbiro pada 28 April lalu.
Perintah ini dikeluarkan setelah China dilanda topan terkuat tahun ini dan serangkaian longsor yang mengakibatkan puluhan korban jiwa.
Xi Jinping menyatakan, pemanasan global yang terus berlanjut telah meningkatkan frekuensi dan dampak kerusakan dari kejadian cuaca ekstrem dan bencana seperti hujan lebat, banjir, topan, dan kekeringan.
Presiden China mendesak adanya pergeseran fokus pada upaya pencegahan sebelum bencana terjadi, penguatan sistem pemantauan dan peringatan dini, serta penanganan kelemahan pada infrastruktur pengendalian banjir dan drainase di wilayah utara China.
China dalam beberapa waktu terakhir mengalami berbagai cuaca ekstrem yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan. Topan terkuat tahun ini membawa hujan deras ke ibu kota, mengakibatkan terendamnya jalan-jalan utama dan terperangkapnya kendaraan. Selain itu, longsor yang dipicu banjir bandang di Provinsi Gansu pada bulan lalu menewaskan 25 orang, sementara longsor lain di Chongqing akibat runtuhnya gunung merenggut 51 nyawa.
Para ilmuwan mengaitkan peningkatan kejadian cuaca destruktif di China dengan perubahan iklim. Kondisi tahun ini juga diperparah oleh pola El NiƱo yang meningkatkan suhu global dan memicu terjadinya topan yang lebih sering dan intens.
Xi Jinping menegaskan bahwa China akan terus meningkatkan kapasitas pencegahan dan respons terhadap berbagai bencana alam demi menjaga kehidupan dan harta benda masyarakat serta stabilitas sosial secara efektif. Ia juga menekankan pentingnya mencegah risiko bencana hingga mengganggu keamanan ekonomi, energi, pangan, maupun sosial.
Lebih lanjut, Xi mendorong pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), drone, dan penginderaan jauh berbasis satelit, dalam upaya penyelamatan dan penanganan bencana. Peningkatan kapasitas ini dinilai krusial untuk melindungi masyarakat dan menjaga stabilitas sosial.