bytedaily
Sabtu, 04 Juli 2026 - 08:28 WIB

Ahli: Aktivitas Tektonik di Timur Indonesia Perlu Diwaspadai Pasca Gempa Filipina

Redaksi 09 Juni 2026 15 views
Ahli: Aktivitas Tektonik di Timur Indonesia Perlu Diwaspadai Pasca Gempa Filipina
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, gempa bermagnitudo 7,8 yang melanda selatan Filipina dan sebagian Sulawesi Utara pada Senin (8/6) menjadi penanda penting aktivitas tektonik di kawasan timur Indonesia.

Menurut Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), peristiwa gempa tersebut tidak dapat dilihat sebagai kejadian terisolasi, melainkan sebagai bagian dari rangkaian aktivitas yang telah lama terpendam.

"Peristiwa ini adalah alarm keras, bukan hanya bagi Filipina, tetapi juga bagi Indonesia. Ketika bangunan runtuh dan laut bergerak tidak biasa, sesungguhnya yang sedang kita saksikan adalah pelepasan sebagian kecil dari energi besar yang telah lama tersimpan di bawah laut," jelas Daryono dalam keterangannya, Selasa (9/6).

Ia menambahkan bahwa wilayah selatan Filipina dan Sulawesi Utara memiliki karakteristik tektonik yang kompleks, di mana beberapa sumber gempa potensial saling berinteraksi. Sumber-sumber tersebut meliputi Subduksi Lempeng Laut Filipina, Subduksi Cotabato, dan Subduksi Ganda Lempeng Laut Maluku.

Zona subduksi ini terus bekerja di bawah permukaan bumi, mengakumulasi energi selama puluhan hingga ratusan tahun. Ketika tekanan melebihi batas elastisitas, terjadilah gempa besar yang berpotensi memicu tsunami.

Daryono menguraikan bahwa kawasan timur Indonesia hingga Filipina merupakan salah satu area dengan tingkat kompleksitas tektonik tertinggi di dunia, ditandai oleh tumpang tindihnya interaksi berbagai lempeng dan sistem subduksi.

Salah satu sistem utama adalah Zona Subduksi Lempeng Laut Filipina yang memiliki kecepatan konvergensi tinggi, menghasilkan gempa bumi intens dan potensi tsunami. Sistem ini tidak bekerja sendiri, melainkan berinteraksi dengan struktur tektonik di sekitarnya, memperumit pola deformasi kerak.

Di bagian selatan Filipina, Subduksi Cotabato memiliki ciri khas sistem penunjaman yang sempit namun aktif dengan segmentasi kuat. Zona ini terkait dengan deformasi kerak yang kompleks, termasuk pembentukan sesar naik dan sesar geser yang meningkatkan risiko gempa dangkal yang merusak.

Sementara itu, di Laut Maluku terdapat sistem subduksi ganda yang jarang ditemui. Lempeng Laut Maluku tersubduksi ke barat di bawah Busur Sangihe dan ke timur di bawah Busur Halmahera, menciptakan sistem kolisi busur-busur kepulauan (arc-arc collision) yang menghasilkan deformasi intens, penebalan kerak, serta aktivitas seismik yang sangat kompleks dan beragam kedalamannya.

Interaksi ketiga sistem ini membentuk mosaik tektonik yang dinamis dan berdampak langsung pada tingkat bahaya geologi di kawasan tersebut. Kombinasi subduksi aktif, segmentasi zona patahan, dan interaksi busur membuat wilayah ini sangat rentan terhadap gempa besar, tsunami, dan proses geodinamika lainnya.

Beberapa penelitian menunjukkan potensi magnitudo besar, bahkan mencapai 8,2, di wilayah Maluku Utara, Sulawesi Utara, hingga Filipina. Namun, Daryono menyayangkan bahwa kawasan ini belum mendapat perhatian sebesar zona megathrust di Sumatra atau Jawa, menjadikannya seolah 'zona megathrust yang terlupakan' di timur Indonesia.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.