bytedaily
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 03:04 WIB

Anak Krakatau Kembali Tumbuh Setelah Runtuh pada 2018

Redaksi 25 September 2026 13 views
Anak Krakatau Kembali Tumbuh Setelah Runtuh pada 2018
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, peneliti BRIN menyebut Gunung Anak Krakatau kembali membangun tubuhnya melalui aktivitas erupsi setelah sebagian gunung itu runtuh ke laut pada Desember 2018. Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, menjelaskan bahwa gunung api tersebut mengalami siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali sejak muncul dari dasar laut pada akhir 1920-an.

Runtuhnya sektor barat daya Anak Krakatau pada 22 Desember 2018 melibatkan material sekitar 0,116 kilometer kubik. Peristiwa itu menghilangkan sebagian besar tubuh gunung di atas permukaan laut, menurunkan ketinggian puncaknya dari sekitar 300 meter menjadi 120 meter, dan memicu tsunami di Selat Sunda.

Menurut Dini, runtuhan tersebut mengubah morfologi dan sistem erupsi Anak Krakatau. Hilangnya sebagian tubuh gunung mengurangi tekanan pada saluran magma, sedangkan air laut masuk ke kawah yang terbuka. Aktivitas kemudian berubah dari erupsi Strombolian menjadi Surtseyan yang lebih eksplosif akibat interaksi magma dengan air laut.

Sejak 2019, gunung itu memasuki fase rekonstruksi. Aktivitasnya berkembang dari erupsi yang dipengaruhi interaksi dengan air menjadi erupsi Strombolian, lava fountain, dan aliran lava. Material hasil aktivitas tersebut secara bertahap membentuk kerucut baru di dalam kawah pascaruntuhan. Salah satu proses pertumbuhan terlihat pada 2020, ketika lava menumpuk di atas material hasil aktivitas setelah runtuhan.

Pertumbuhan Anak Krakatau berlangsung tidak simetris karena gunung tersebut berada di tepi kaldera bawah laut dengan kemiringan berbeda di setiap sisi. Sektor barat daya tumbuh di atas lereng kaldera yang lebih curam, sementara sektor timur laut berada di atas dasar laut yang relatif lebih dangkal. Perbedaan kondisi itu membuat kestabilan kedua sektor tidak sama.

Tubuh gunung juga tersusun atas material dengan sifat fisik beragam. Pada fase awal pertumbuhan, interaksi magma dan air laut menghasilkan endapan tuf yang relatif lebih ringan dan berpori.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.