bytedaily
Kamis, 15 Oktober 2026 - 06:20 WIB

Kekayaan Liang Wenfeng Capai US$40 Miliar Berkat DeepSeek

Redaksi 11 Oktober 2026 18 views
Kekayaan Liang Wenfeng Capai US$40 Miliar Berkat DeepSeek
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, kekayaan Liang Wenfeng, pendiri perusahaan kecerdasan buatan (AI) DeepSeek, tercatat mencapai US$40 miliar atau sekitar Rp715,65 triliun. Angka itu merujuk pada catatan Forbes per Minggu (11/10), dengan asumsi kurs Rp17.891 per dolar AS.

Forbes menempatkan Liang di posisi ke-52 dalam daftar real-time orang terkaya di dunia. Pada tahun sebelumnya, ia berada di peringkat ke-34 dalam daftar 100 orang terkaya di China.

Liang lahir di Zhanjiang, Guangdong, China, pada 1985. Kedua orang tuanya bekerja sebagai guru sekolah dasar. Ia kemudian menempuh pendidikan sarjana dan magister di Universitas Zhejiang, dengan fokus pada teknik informasi elektronik dan komunikasi, termasuk visi komputer serta penerapan AI.

Setelah lulus, Liang mendirikan sejumlah perusahaan yang memadukan AI dengan perdagangan kuantitatif. Pada 2013, ia mendirikan Hangzhou Yakebi Investment Management Co Ltd. Dua tahun kemudian, ia bersama rekan-rekannya membentuk Hangzhou Huanfang Technology Co Ltd, yang kemudian dikenal sebagai Zhejiang Jiuzhang Asset Management Co Ltd.

Pada 2016, Liang turut mendirikan Ningbo High-Flyer Quantitative Investment Management Partnership, perusahaan yang menggunakan matematika dan AI untuk investasi. Ia lalu mendirikan High-Flyer AI pada 2019 untuk meneliti algoritma AI dan penerapannya. Perusahaan itu berhasil mengelola aset lebih dari 10 miliar yuan.

Lonjakan kekayaan Liang terjadi setelah ia mendirikan DeepSeek pada 2023. Perusahaan yang berfokus mengembangkan model AI canggih itu menggunakan modal dari High-Flyer. Model DeepSeek dinilai efisien dan hemat biaya karena dikembangkan dengan sumber daya lebih sedikit dibandingkan para pesaing Barat.

DeepSeek merilis R1, model penalaran yang disebut mampu menyaingi OpenAI o1. R1 bersifat open-source sehingga dapat digunakan oleh pengembang AI. CNN mengutip keterangan perusahaan bahwa pengembangan model dasar AI mereka menghabiskan US$5,6 juta, lebih rendah daripada dana ratusan juta hingga miliaran dolar yang dikeluarkan sejumlah perusahaan Amerika Serikat untuk mengembangkan teknologi AI.

DeepSeek kemudian mendapat perhatian global dan menjadi pesaing ChatGPT dari OpenAI, Gemini dari Google, serta sejumlah layanan AI lainnya. Perkembangan tersebut juga menunjukkan kemampuan China mengembangkan model AI sendiri.

Pada Juni, DeepSeek menghimpun US$7,4 miliar dalam putaran pendanaan dengan valuasi perusahaan mencapai US$52 miliar. Namun, keberhasilan perusahaan itu disertai sejumlah kekhawatiran. Beberapa ahli memperingatkan risiko penggunaan platformnya, termasuk potensi penyebaran misinformasi dan dugaan eksploitasi data oleh pemerintah China. Kekhawatiran lain mencakup privasi data serta kepatuhan terhadap regulasi China di negara-negara Barat.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.