bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, harga Bitcoin saat ini mengalami koreksi, memicu diskusi mengenai evaluasi nilai intrinsiknya untuk jangka panjang. Pemilik Bitcoin dilaporkan menjual aset digital senilai US$2,4 miliar pada awal Juni, dengan sebagian besar dari mereka membeli di harga yang lebih tinggi.
Sebagai aset digital terbesar, Bitcoin masih menjadi perdebatan antara inovasi teknologi dan penyimpan nilai versus spekulasi pasar. Dalam dekade terakhir, Bitcoin telah menunjukkan kenaikan signifikan, meskipun disertai koreksi tajam yang berulang.
Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$63.000. Menurut analis pasar keuangan Elev8, Kar Yong Ang, salah satu penyebab penurunan harga adalah pergeseran arus modal ke sektor lain yang menarik perhatian investor, seperti saham teknologi yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, dan perangkat keras, serta kenaikan harga minyak.
Tekanan ini tercermin pada perilaku investor yang mulai melakukan penjualan saat harga melemah. Selain faktor likuiditas, pergerakan Bitcoin juga dikaitkan dengan siklus pasar yang lebih luas dan kalender politik serta ekonomi Amerika Serikat, meskipun pola historis tidak selalu berulang.
Sentimen pasar saat ini cenderung hati-hati, terlihat dari indikator Crypto Fear & Greed Index yang menunjukkan pesimisme. Diskusi mengenai valuasi Bitcoin menguat, dengan perbedaan pandangan karena pendekatan penilaiannya yang berbeda dari saham. Beberapa investor menilai Bitcoin berdasarkan kelangkaan pasokannya yang terbatas, sementara yang lain menggunakan indikator on-chain.
Data dari Elev8 menunjukkan rasio Market Value to Realized Value (MVRV) Bitcoin berada di bawah rata-rata historisnya. Pendekatan lain memandang Bitcoin sebagai aset alternatif dalam menghadapi risiko ekonomi global, bahkan membandingkannya dengan instrumen lindung nilai.