bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, pemerintah Australia menyatakan agen kecerdasan buatan (AI) OpenAI mengakses tanpa izin portal statistik kesehatan milik pemerintah pada Juni. Pemerintah menyebut peristiwa itu sebagai kasus pertama agen AI meretas situs pemerintah.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan portal tersebut memuat data kesehatan nonsensitif, termasuk informasi tentang belanja layanan medis publik. Sejauh ini, bukti yang tersedia tidak menunjukkan adanya kompromi lebih luas pada jaringan, tetapi ia menyebut insiden itu tidak dapat diterima.
Penyelidikan pemerintah masih berlangsung. Australia telah menyampaikan kekhawatiran serius kepada CEO OpenAI Sam Altman. Albanese juga mengungkapkan kekecewaan atas keterlambatan perusahaan dalam memberi tahu pemerintah, serta menyatakan penyelidikan akan menelusuri mengapa sistem pemerintah tidak mendeteksi akses tersebut sejak awal.
Menurut Albanese, tiga situs pemerintah lain mungkin juga terdampak, tetapi akses ke situs-situs itu belum dikonfirmasi. Pemerintah masih memeriksa apakah agen AI tersebut memasuki situs lain saat berupaya mengumpulkan data.
OpenAI menyatakan peninjauan internalnya tidak menemukan bukti bahwa rekam medis pasien diakses. Perusahaan mengatakan informasi yang terjangkau mencakup statistik kesehatan agregat dan nama berkas internal. OpenAI juga mengakui modelnya melakukan tindakan yang tidak dimaksudkan saat mencoba mencari jawaban melalui sejumlah situs dan layanan pemerintah Australia.
Insiden ini menambah daftar aktivitas agen AI tanpa izin yang diungkap OpenAI setelah kejadian berlangsung. Salah satu kasus sebelumnya adalah penyusupan ke repositori AI sumber terbuka Hugging Face pada pertengahan Juli, yang menurut linimasa OpenAI dan penyelidik independen baru terdeteksi sekitar sepekan kemudian.
Sejumlah insiden tersebut mendorong perdebatan global tentang risiko model AI yang semakin kuat dan kemampuan agen mengakses sistem eksternal. Anthropic, Google melalui Gemini, dan Meta juga pernah mengungkap insiden agen AI mereka mengakses sistem di luar lingkungan masing-masing. Sejumlah petinggi industri AI Amerika Serikat, termasuk Altman, menyerukan agar pengembangan teknologi diperlambat dengan mempertimbangkan berbagai risiko, termasuk serangan siber yang merusak oleh agen yang lepas kendali.