bytedaily
Jumat, 03 Juli 2026 - 23:16 WIB

Bagian Roket SpaceX Diprediksi Tabrak Bulan Jelang Gerhana Matahari

Redaksi 15 Juni 2026 12 views
Bagian Roket SpaceX Diprediksi Tabrak Bulan Jelang Gerhana Matahari
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sebuah bagian dari roket Falcon 9 milik SpaceX diperkirakan akan menabrak permukaan Bulan pada 5 Agustus 2026. Peristiwa ini terjadi hanya satu minggu sebelum Gerhana Matahari Total yang dijadwalkan pada 12 Agustus.

Prediksi ini disampaikan oleh Bill Gray, seorang astronom independen yang mengembangkan perangkat lunak Project Pluto untuk melacak objek dekat Bumi. Menurut analisisnya, tahap atas roket Falcon 9 tersebut diproyeksikan menghantam Bulan sekitar pukul 06.44 UTC atau 13.44 WIB.

Gray memperkirakan lokasi tumbukan akan berada di dekat kawah Einstein, sebuah area di permukaan Bulan yang memiliki banyak jejak benturan, terletak di antara sisi dekat dan sisi jauh Bulan. Roket yang dimaksud adalah bagian atas dari misi 2025-010D yang diluncurkan Januari 2025, yang membawa dua pendarat bulan, yaitu Blue Ghost Mission 1 dan Hakuto-R Mission 2.

Berbeda dengan bagian pertama roket Falcon 9 yang dirancang untuk kembali dan dapat digunakan kembali di Bumi, tahap atas ini tidak memiliki mekanisme pengembalian. Objek yang ukurannya setara dengan gedung lima lantai ini kini mengorbit Bumi secara bebas dalam lintasan yang perlahan membawanya mendekati Bulan.

Saat ini, tahap atas roket tersebut menyelesaikan satu orbit Bumi setiap 26 hari, dengan jarak terdekat sekitar 220.000 kilometer dan terjauh mencapai sekitar 510.000 kilometer dari Bumi. Karena orbitnya bersinggungan dengan lintasan gravitasi Bulan, yang rata-rata berjarak 400.000 kilometer dari Bumi, tabrakan dianggap hanya masalah waktu.

Gray menjelaskan bahwa orbit objek tersebut dan Bulan secara kasar saling berpotongan. "Pada 5 Agustus, keduanya akan mencapai titik itu pada waktu yang sama," ujarnya. Tumbukan diprediksi terjadi dengan kecepatan sekitar tujuh kali kecepatan suara.

Perhitungan lintasan objek luar angkasa ini umumnya cukup akurat karena hanya dipengaruhi oleh gravitasi Bumi, Bulan, Matahari, dan planet-planet. Namun, ada sedikit ketidakpastian yang berasal dari tekanan radiasi matahari, yaitu dorongan kecil yang dihasilkan oleh cahaya Matahari. Karena objek ini berputar secara acak dan posisinya terhadap Matahari terus berubah, gaya kecil yang terakumulasi sulit dihitung secara presisi dalam jangka panjang.

Dampak tumbukan ini diperkirakan akan menciptakan kawah baru di permukaan Bulan. Kilatan dari benturan kemungkinan tidak akan terlihat dari Bumi, namun wahana NASA Lunar Reconnaissance Orbiter berpotensi dapat merekam jejak tabrakan tersebut dari orbitnya.

Kejadian ini tidak menimbulkan ancaman karena Bulan tidak dihuni dan tidak ada infrastruktur yang terancam. Namun, para ilmuwan mengingatkan bahwa masalah sampah antariksa di sekitar Bulan semakin menjadi perhatian, terutama mengingat rencana program Artemis NASA untuk mengirim astronaut ke Bulan pada 2028 dan target serupa dari China sekitar 2030.

Tujuh hari setelah prediksi tumbukan, pada 12 Agustus, Bulan akan berperan dalam fenomena Gerhana Matahari Total. Satelit alami Bumi ini akan menutupi sepenuhnya cahaya Matahari di wilayah Greenland, Islandia, serta sebagian Spanyol dan Portugal.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.