bytedaily
Kamis, 25 Juni 2026 - 01:16 WIB

BMKG: 37,6 Persen Wilayah Indonesia Telah Memasuki Musim Kemarau

Redaksi 24 Juni 2026 4 views
BMKG: 37,6 Persen Wilayah Indonesia Telah Memasuki Musim Kemarau
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa sebanyak 37,6 persen dari total 699 Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki periode musim kemarau. Angka ini setara dengan 263 ZOM.

Sementara itu, 46,2 persen atau 323 ZOM lainnya masih berada dalam musim hujan, dan 16,2 persen atau 113 ZOM dikategorikan sebagai Tipe 1 Musim.

Pembaruan data ini disampaikan BMKG melalui akun Instagram resminya pada Selasa (23/6), seiring dengan pemutakhiran kondisi iklim Dasarian II Juni 2026.

Dalam pembaruan tersebut, BMKG juga menyoroti prediksi kuatnya fenomena El Nino dengan peluang mencapai 98 persen, meningkat dari prediksi sebelumnya yang sebesar 62 persen. Anomali suhu permukaan laut (SST) di wilayah Nino 3.4 tercatat sebesar +1,61, menunjukkan kondisi hangat yang telah melewati ambang batas Netral selama tujuh dasarian berturut-turut.

BMKG menjelaskan bahwa perubahan suhu laut di Samudra Pasifik (ENSO) dan Samudra Hindia (IOD) berpotensi memengaruhi pola hujan, suhu udara, hingga potensi cuaca ekstrem di Indonesia. Saat ini, nilai Dipole Mode Indeks (IOD) tercatat -0,298, mengindikasikan fase netral.

Fenomena El Nino diperkirakan akan bertahan hingga awal 2027 dan berpotensi memperparah musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering dan lebih panjang. Dampak langsung fenomena ini terhadap wilayah Indonesia diperkirakan berlangsung sepanjang musim kemarau hingga Oktober 2026.

BMKG juga mencatat bahwa fenomena ini akan memengaruhi pola cuaca global. Biro cuaca Australia bahkan memperingatkan bahwa pola cuaca El Nino yang telah terbentuk di Pasifik tropis dapat meningkat menjadi salah satu yang terkuat dalam tujuh dekade pada paruh kedua 2026. Fenomena ini diprediksi membawa hujan berlebihan ke Amerika dan kondisi panas serta kering di Asia, yang berpotensi mengganggu sektor pertanian dan pasokan pangan.

Para ilmuwan juga menyatakan bahwa perubahan iklim akan memperkuat efek El Nino pada tahun ini.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.