bytedaily
Kamis, 09 Juli 2026 - 10:32 WIB

BMKG: Cuaca Kering Dominan di Musim Kemarau, Hujan Lokal Tetap Berpotensi Terjadi

Redaksi 09 Juli 2026 1 views
BMKG: Cuaca Kering Dominan di Musim Kemarau, Hujan Lokal Tetap Berpotensi Terjadi
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa cuaca kering semakin mendominasi di sebagian besar wilayah Indonesia seiring dengan berkurangnya curah hujan selama musim kemarau. Namun, BMKG tetap mengingatkan adanya potensi terjadinya hujan lebat secara lokal di beberapa daerah.

Menurut prakiraan BMKG untuk periode 7-13 Juli, sekitar 72,19 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah. Sisanya, 27,80 persen, diperkirakan berada pada kategori menengah, tanpa adanya wilayah yang diprakirakan mengalami curah hujan tinggi atau sangat tinggi. Kondisi ini mengindikasikan dominasi cuaca kering di sebagian besar Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Meskipun demikian, BMKG mengimbau agar tetap mewaspadai potensi hujan kategori menengah di beberapa wilayah, termasuk sebagian Sumatra bagian utara dan tengah, Kalimantan bagian utara, sebagian Maluku, serta wilayah pegunungan Papua. Potensi hujan yang masih ada ini dipengaruhi oleh beberapa fenomena atmosfer.

Aktivitas gelombang atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO) yang berada pada fase 7 diprakirakan berpotensi memengaruhi wilayah pesisir utara Aceh. Gelombang Kelvin juga diprediksi aktif di Kepulauan Riau, pesisir utara Riau, Kalimantan, pesisir selatan Jawa, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Bali, NTB, NTT, Maluku Utara, hingga Papua Barat Daya. Selain itu, Gelombang Rossby Ekuatorial berpotensi memengaruhi kondisi atmosfer di Sumatra Selatan, Lampung, Jawa bagian barat, Maluku, Maluku Utara, Kalimantan Utara, Papua Selatan, NTT, dan Sulawesi Tenggara, sehingga membuka peluang pertumbuhan awan hujan secara lokal.

BMKG juga melaporkan adanya sirkulasi siklonik yang diprediksi aktif di sekitar pesisir Sumatra Selatan dan pesisir barat Sumatra. Fenomena ini berpotensi membentuk daerah perlambatan dan belokan angin di wilayah sekitarnya. Perlambatan, pertemuan, dan belokan angin juga diprakirakan terbentuk di Sumatra Barat, Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua Barat. BMKG menjelaskan bahwa faktor-faktor ini dapat meningkatkan pengangkatan massa udara dan mendukung pertumbuhan awan hujan, sehingga memungkinkan terjadinya hujan di sejumlah wilayah meskipun Indonesia sedang dalam periode musim kemarau.

Data BMKG pada awal Juli mencatat curah hujan tertinggi di beberapa wilayah, dengan angka masing-masing 156 mm/hari di Sumatra Barat, 151 mm/hari di Sulawesi Utara, 90 mm/hari di Sumatra Utara, 84 mm/hari di Kalimantan Utara, dan 57 mm/hari di Maluku Utara.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.