bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan mengenai fenomena batu apung yang memenuhi perairan Sarmi dan Biak, Papua. Menurut BMKG, batu apung tersebut berasal dari letusan gunung api bawah laut yang berlokasi di utara Papua Nugini.
Penjelasan ini disampaikan menyusul beredarnya video viral di media sosial yang memperlihatkan bibir pantai kedua wilayah perairan tersebut dipenuhi batu apung hingga meluas ke daratan. Kepala Stasiun BMKG Maritim Jayapura, Heri Purnomo, menyatakan bahwa batu apung tersebut merupakan hasil dari muntahan gunung berapi bawah laut.
"Berdasarkan penelusuran kami terdapat letusan gunung berapi bawah laut di Laut Bismarck sebelah utara PNG (Papua Nugini), di mana penumpukan lava telah menghasilkan massa batu apung yang mengapung ke permukaan pada sekitar tanggal 8 Juni 2026 di sekitaran Selat Loniu," ujar Heri Purnomo kepada wartawan pada Rabu (8/7), dikutip dari Detik.
Heri menjelaskan bahwa setelah mengapung ke permukaan, batu apung tersebut kemudian terbawa oleh arus laut yang bergerak ke arah barat, menuju perairan Papua. Pergerakan arus laut inilah yang menyebabkan batu apung tersebut terdampar hingga ke wilayah pesisir Sarmi dan Biak.
BMKG menyatakan bahwa saat ini tidak teridentifikasi adanya gunung berapi bawah laut aktif di wilayah Papua. Material vulkanik dari erupsi gunung bawah laut tersebut mengikuti pergerakan arus perairan di utara Papua.
Lebih lanjut, Heri Purnomo menyatakan bahwa BMKG membutuhkan penelitian lebih mendalam untuk mengetahui dampak batu apung tersebut terhadap masyarakat dan ekosistem pesisir perairan Papua. Informasi awal yang diterima BMKG menyebutkan bahwa material batu apung tersebut berpotensi menghasilkan daratan baru di wilayah tersebut.
Meskipun demikian, Heri menekankan bahwa potensi bahaya signifikan dari batu apung ini memerlukan penelitian lebih lanjut. Namun, penumpukan sedimen akibat material tersebut dipastikan akan menyebabkan pendangkalan di kawasan pesisir. Batu apung ini diperkirakan akan terus bergerak mengikuti arus laut, meskipun sebagian akan mengendap di pesisir.
Terkait potensi dampak terhadap pelayaran, BMKG meyakini bahwa otoritas terkait telah mengambil langkah penanganan. "Namun, jika itu sekiranya membahayakan jalur pelayaran, pasti akan dibersihkan. Pasti pihak pelayaran sudah antisipasi," pungkas Heri.