bytedaily
Jumat, 03 Juli 2026 - 05:59 WIB

BMKG: El Nino Berpotensi Berdampak Signifikan Hingga Oktober 2026

Redaksi 02 Juli 2026 4 views
BMKG: El Nino Berpotensi Berdampak Signifikan Hingga Oktober 2026
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi sejumlah wilayah di Indonesia yang berpotensi merasakan dampak signifikan dari fenomena El Nino hingga Oktober 2026.

Berdasarkan pemantauan BMKG, El Nino telah mencapai kategori kuat dengan probabilitas 98 persen. Kondisi ini berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan, khususnya di wilayah selatan garis khatulistiwa selama periode puncak musim kemarau.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa El Nino adalah fenomena iklim global yang memengaruhi pola curah hujan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Namun, ia menekankan pentingnya membedakan antara El Nino dan musim kemarau, karena keduanya merupakan fenomena yang berbeda.

Faisal merinci bahwa pada periode Juli hingga Oktober 2026, curah hujan di wilayah-wilayah yang terdampak diperkirakan akan berada di bawah rata-rata klimatologis normal. Ia mengingatkan bahwa yang perlu diwaspadai adalah ketika El Nino bertepatan dengan musim kemarau, yang dapat mengakibatkan berkurangnya curah hujan secara signifikan.

Analisis BMKG memprediksi El Nino akan berlangsung selama 9 hingga 12 bulan, namun hal ini tidak berarti Indonesia akan mengalami kekeringan sepanjang periode tersebut. Fenomena ini diperkirakan akan berdampak pada sektor pertanian dan ketersediaan air, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Selain itu, El Nino juga berpotensi menurunkan kualitas udara akibat peningkatan konsentrasi polutan dan memicu gangguan kesehatan masyarakat seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit akibat paparan suhu panas. Di sektor pangan dan pertanian, BMKG memperingatkan adanya risiko gangguan fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga potensi gagal panen akibat defisit air.

Oleh karena itu, BMKG menyarankan agar kesiapsiagaan dan langkah antisipatif dilakukan sejak dini. Hal ini mencakup penyesuaian pola tanam, pengelolaan irigasi yang lebih efisien, serta pemanfaatan informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan di sektor pertanian. Kesiapsiagaan lintas sektor, termasuk koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan pemangku kepentingan lainnya, sangat penting untuk mengantisipasi risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, kualitas udara, serta kesehatan masyarakat.

Faisal menambahkan bahwa Indonesia memiliki karakteristik iklim yang beragam dengan 699 Zona Musim (ZOM), sehingga strategi mitigasi dan adaptasi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.