bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino berpeluang akan menetap hingga awal tahun 2027. Kondisi ini diperkirakan akan membuat musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering dan berlangsung lebih lama.
Berdasarkan perhitungan awal Juni 2026, BMKG memperkirakan El Nino akan bertahan hingga awal 2027 dengan kemungkinan intensitas moderat sebesar 98 persen dan intensitas kuat sebesar 62 persen. Meskipun demikian, BMKG menginformasikan bahwa dampak langsung fenomena ini terhadap wilayah Indonesia hanya akan terasa sepanjang musim kemarau hingga Oktober 2026.
Fenomena El Nino tidak hanya mempengaruhi pola cuaca di Indonesia, tetapi juga secara global. Biro cuaca Australia telah memperingatkan bahwa pola El Nino telah terbentuk di Pasifik tropis dan berpotensi menguat pada paruh kedua 2026, menjadikannya salah satu yang terkuat dalam tujuh dekade terakhir. Penguatan ini diprediksi akan membawa curah hujan berlebih ke Amerika dan kondisi panas serta kering di Asia, yang dapat mengganggu sektor pertanian dan pasokan pangan.
Para ilmuwan juga mengemukakan bahwa perubahan iklim berpotensi memperkuat dampak El Nino tahun ini. Fenomena ini diperkirakan akan bertepatan dengan puncak musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia, yang akan memengaruhi pola cuaca selama periode tersebut.
BMKG memaparkan bahwa El Nino pada periode Juni-Agustus (JJA) dan September-November (SON) berpotensi mengurangi curah hujan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Sementara itu, pada periode Desember-Februari (DJF), dampaknya cenderung pada penurunan curah hujan di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi dalam tiga fase, yaitu pada bulan Juli, Agustus, dan September 2026. Bulan Agustus diprediksi menjadi bulan dengan puncak kemarau terbanyak, meliputi 369 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,84 persen dari luas daratan Indonesia.
Berdasarkan pantauan BMKG hingga akhir Mei 2026, sekitar 28,6 persen luas daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau lebih awal. Pada bulan Juni ini, 198 ZOM (31,60 persen) diprediksi akan memasuki musim kemarau, dan 66 ZOM (7,28 persen) lainnya akan menyusul pada bulan Juli.
Menghadapi potensi kekeringan akibat musim kemarau dan El Nino, BMKG telah mengeluarkan serangkaian rekomendasi lintas sektor. BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan semua pihak terhadap berbagai risiko yang mungkin timbul dari fenomena El Nino dan potensi kekeringan berkepanjangan.
Rekomendasi tersebut meliputi penyesuaian jadwal tanam dan pemilihan varietas tahan kekeringan bagi pelaku sektor pangan, revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi air untuk sektor sumber daya air, serta memastikan kapasitas air bendungan untuk operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) oleh sektor energi. Pemerintah daerah juga diimbau untuk menyiapkan mekanisme respons cepat mengantisipasi penurunan kualitas udara yang dapat memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). BMKG juga menyoroti perlunya kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk memperkuat pencegahan karhutla, termasuk melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).