bytedaily
Selasa, 18 Agustus 2026 - 21:20 WIB

BMKG: Indonesia Berpotensi Makin Kering Jelang Puncak El Nino

Redaksi 12 Agustus 2026 12 views
BMKG: Indonesia Berpotensi Makin Kering Jelang Puncak El Nino
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa fenomena El Nino semakin mendekati fase puncaknya dengan kategori kuat, yang dampaknya diperkirakan akan semakin terasa di Indonesia. Hingga akhir Juli 2026, kondisi atmosfer menunjukkan kecenderungan yang mendukung cuaca kering di seluruh wilayah Indonesia.

Faktor dominan yang berkontribusi pada berkurangnya pasokan hujan di berbagai daerah adalah fenomena El Nino kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang cenderung positif. Hal ini tercermin dari 73,8 persen wilayah Indonesia atau 516 Zona Musim (ZOM) yang telah memasuki musim kemarau. Distribusi curah hujan pada Dasarian III Juli juga didominasi oleh kategori rendah, dengan sekitar 76,3 persen wilayah mengalami sifat hujan di bawah normal.

BMKG memperkirakan kondisi kering ini akan berlanjut hingga awal Agustus, yang berpotensi meningkatkan risiko kekeringan meteorologis serta kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah. Intensitas El Nino dikategorikan kuat berdasarkan nilai anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik timur (Nino3.4) yang berada di atas +2°C. Selain itu, anomali suhu muka laut di Samudra Hindia bagian barat dan timur, yang diindikasikan oleh indeks IOD, juga berada pada rentang positif (+0,63), menandakan pergerakan uap air dari Indonesia bagian barat menuju pesisir timur Afrika.

Kombinasi kedua kondisi tersebut menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering dari biasanya. Prakiraan Dasarian II Agustus 2026 menunjukkan bahwa curah hujan kategori rendah diperkirakan mendominasi 95,62 persen wilayah Indonesia, sementara 4,38 persen lainnya berada pada kategori menengah.

Sebelumnya, BMKG memprediksi puncak El Nino berpotensi melebihi kategori kuat dan bisa bertahan hingga awal tahun 2027. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa indeks Nino 3.4 telah melebihi ambang batas kategori kuat, yaitu di atas 1,5°C, dengan nilai saat ini lebih dari 1,56°C. Di sisi lain, indeks IOD di Samudra Hindia menunjukkan nilai negatif (-0,38), yang mengindikasikan adanya peluang signifikan terjadinya fenomena Indian Ocean Dipole.

Ardhasena menyatakan bahwa puncak El Nino diprediksi terjadi pada Desember 2026 atau Januari 2027, dengan peluang kondisi El Nino tahun ini melebihi kategori kuat. Namun, ia menekankan bahwa dampak El Nino di Indonesia hanya terjadi bersamaan dengan musim kemarau. BMKG memprediksi musim kemarau di Indonesia akan berakhir pada Oktober 2026. Dampak El Nino juga sangat bergantung pada kondisi suhu laut di sekitar wilayah Indonesia, sehingga tidak serta-merta dampaknya akan sama persis dengan tahun-tahun sebelumnya.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.