bytedaily
Kamis, 20 Agustus 2026 - 05:56 WIB

BMKG Jelaskan Fenomena Hujan Lokal di Tengah Penguatan El Nino

Redaksi 01 Agustus 2026 10 views
BMKG Jelaskan Fenomena Hujan Lokal di Tengah Penguatan El Nino
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa meskipun fenomena El Nino telah mencapai level kuat, beberapa wilayah di Indonesia masih mengalami hujan dengan intensitas yang bervariasi. Hal ini disebabkan oleh adanya fenomena atmosfer berskala lokal yang mendukung pembentukan awan hujan.

BMKG mencatat bahwa pada periode 27-29 Juli 2026, hujan lebat hingga sangat lebat terjadi secara lokal di beberapa daerah. Curah hujan tertinggi tercatat di Sumatera Barat mencapai 126 milimeter per hari, diikuti oleh Kepulauan Riau sebesar 97 milimeter per hari, dan Aceh sebesar 83,5 milimeter per hari. Wilayah lain seperti Jawa Barat dan Sumatera Utara juga mengalami hujan masing-masing sebesar 53,4 milimeter per hari dan 52,6 milimeter per hari.

Hujan yang terjadi ini didukung oleh aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial yang memengaruhi sebagian wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah. Selain itu, anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif pada periode yang sama juga mengindikasikan peningkatan tutupan awan yang mendukung pembentukan awan hujan.

Menurut BMKG, musim kemarau dan penguatan El Nino tidak berarti hujan akan berhenti sepenuhnya di seluruh Indonesia. Hujan masih dapat terjadi secara lokal apabila dinamika atmosfer mendukung pertemuan massa udara dan pertumbuhan awan. Meskipun demikian, perkembangan iklim global masih mendukung cuaca kering di Indonesia.

Indikator El Nino kuat terlihat dari Indeks NiƱo 3.4 dasarian yang tercatat sebesar +2,26 dan Southern Oscillation Index (SOI) pada -28,2. El Nino berpotensi mengurangi pembentukan awan hujan dan menekan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Prakiraan Dasarian I Agustus 2026 menunjukkan curah hujan kategori rendah diprediksi mendominasi sekitar 91,43 persen wilayah Indonesia, sementara sekitar 8,57 persen wilayah diprakirakan mengalami curah hujan kategori menengah. Tidak ada wilayah yang diprakirakan mengalami curah hujan kategori tinggi maupun sangat tinggi pada periode tersebut.

BMKG masih memperkirakan adanya peluang hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Aktivitas Gelombang Ekuatorial Rossby dan Kelvin yang melintasi sebagian Sumatra dan Kalimantan diprakirakan mendukung pertumbuhan awan hujan. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) secara spasial juga berpotensi memengaruhi wilayah Indonesia bagian timur.

Selain itu, keberadaan Bibit Siklon Tropis 94W di Samudra Pasifik utara Papua Barat dapat membentuk pola konvergensi dan konfluensi di sekitar Laut Filipina dan wilayah sekitarnya. Kondisi ini mendorong pertemuan dan penumpukan massa udara, sehingga hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih berpeluang terjadi secara lokal, terutama di wilayah yang dipengaruhi gelombang atmosfer, bibit siklon tropis, serta daerah konvergensi dan konfluensi.

Selain hujan, peningkatan kecepatan angin permukaan diprakirakan terjadi di beberapa wilayah perairan dalam beberapa hari ke depan, termasuk sebagian Laut Andaman, Laut Cina Selatan, Selat Karimata, Laut Jawa, Samudra Hindia selatan Jawa hingga selatan Nusa Tenggara Timur, Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram, dan Laut Arafura. Bibit Siklon Tropis 94W juga berpotensi meningkatkan kecepatan angin.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.