bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau bibit siklon tropis 91W yang aktif di sekitar wilayah Indonesia dan menilai potensi dampaknya terhadap cuaca nasional.
BMKG menyatakan bahwa sistem ini terbentuk pada 21 September 2026 pukul 01.00 WIB, dan menurut data Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) pada Rabu, 23 September pukul 07.00 WIB, posisinya berada di Laut Filipina, sebelah utara Papua.
Kecepatan angin maksimum yang terdeteksi saat ini mencapai 30 knot (sekitar 55 km/jam) dengan tekanan udara terendah 1008 hPa.
Analisis citra satelit selama 24 jam terakhir menunjukkan bahwa konveksi di sekitar pusat sistem mulai terorganisir, menandakan peningkatan aktivitas dengan terbentuknya area awan yang luas dan puncak awan sangat dingin.
Namun, distribusi konveksi belum terpusat sepenuhnya di sekitar pusat siklon. Pemeriksaan profil angin menunjukkan adanya sirkulasi siklonik yang terdefinisi dari permukaan hingga level 700 hPa.
BMKG menjelaskan bahwa perkembangan bibit siklon 91W dipengaruhi oleh fenomena Madden‑Julian Oscillation yang melintasi wilayahnya, serta aktifnya gelombang Equatorial Rossby, gelombang frekuensi rendah, dan Kelvin. Suhu permukaan laut yang hangat, kelembapan tinggi pada semua lapisan, vortisitas positif yang kuat, konvergensi pada lapisan bawah, divergensi pada lapisan atas, dan vertical wind shear yang lemah turut memperkuat intensitas sistem.
Menurut perkiraan BMKG untuk 24 jam ke depan, bibit siklon 91W diproyeksikan mencapai intensitas siklon tropis kategori 1 dengan posisi sekitar 16,8° Lintang Utara dan 134,8° Bujur Timur, kecepatan angin maksimum 35 knot (65 km/jam), tekanan minimum 1002 hPa, serta bergerak ke arah barat‑barat laut.
Dalam rentang 48‑72 jam ke depan, intensitasnya berpotensi terus menguat dan masih berada dalam wilayah pengawasan TCWC Jakarta, sehingga peluang menjadi siklon tropis dalam 24‑72 jam dinilai tinggi.
BMKG juga mencatat dampak tidak langsung terhadap perairan Indonesia hingga 07.00 WIB 24 September, berupa gelombang laut kategori sedang (1,25‑2,5 meter) yang terjadi di perairan Kepulauan Talaud, Kepulauan Sangihe, Laut Maluku, serta Samudra Pasifik bagian utara Maluku hingga Papua.