bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bahwa pada Rabu, 23 September 2026, terdapat enam belas wilayah di Indonesia yang berpotensi mengalami hujan.
Penurunan potensi pembentukan awan hujan di seluruh nusantara dipengaruhi oleh kondisi iklim global yang masih berada pada fase El Nino sangat kuat, tercatat dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) -20,3 dan indeks NINO3.4 sebesar +2,51.
BMKG juga menginformasikan bahwa curah hujan di mayoritas wilayah Indonesia diperkirakan tetap berada pada level rendah hingga menengah, yakni antara 0 hingga 150 milimeter per dasarian, untuk periode akhir September hingga awal Oktober 2026.
Meski demikian, sejumlah dinamika atmosfer yang diproyeksikan aktif dapat meningkatkan peluang pembentukan awan hujan secara regional dalam beberapa hari mendatang. Pada 22‑23 September 2026, aktivitas Madden‑Julian Oscillation (MJO) diperkirakan melintasi sebagian besar wilayah Sumatera, sementara gelombang Rossby ekuatorial diprediksi aktif di sebagian besar wilayah Kalimantan beserta perairannya.
Analisis BMKG menunjukkan adanya potensi peningkatan aktivitas konvektif yang dapat memicu terbentuknya awan hujan di Sumatra, Kalimantan, bagian tengah dan selatan Sulawesi, serta perairan sekitarnya.
Selain MJO dan gelombang Rossby, sirkulasi siklonik yang menghasilkan daerah perlambatan dan pertemuan aliran angin diperkirakan terbentuk di Laut Cina Selatan sebelah timur Vietnam, serta di Samudra Pasifik timur dekat Filipina dan wilayah utara Papua.
Kondisi atmosfer lokal yang tidak stabil serta peningkatan kecepatan angin permukaan melebihi 25 knot turut memperkuat kemungkinan terjadinya hujan lebat dan angin kencang secara lokal.
BMKG mencantumkan enam belas wilayah yang diprediksi berpotensi hujan pada hari Rabu, 23 September 2026, namun rincian nama daerah tersebut tidak disertakan dalam teks sumber.