bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, penyerapan gabah oleh Bulog dari petani dikabarkan telah memperkuat cadangan beras pemerintah. Di Indramayu, para petani menunjukkan kebahagiaan atas hasil panen mereka yang diserap langsung oleh Bulog. Sodik (62), seorang petani di Desa Srengseng, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, mengungkapkan rasa syukurnya meskipun hasil panennya kali ini sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Ia mengapresiasi kehadiran Bulog yang membeli gabahnya langsung di areal sawah dengan harga sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp 6.500 per kilogram, yang dibayar secara tunai. Hal ini sangat meringankan beban petani karena memangkas biaya transportasi.
Petani lain di Desa Tambi, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Kasunah, juga menyambut baik kebijakan Bulog yang menyerap padi langsung dari lahan. Ia merasa lebih mudah karena tidak perlu repot mencari pembeli atau menjemur gabah. Pembayaran tunai yang diterima langsung setelah panen memberikan keuntungan tersendiri bagi petani. Menurut Kasunah, HPP GKP sebesar Rp 6.500 per kilogram ini memberikan keuntungan bagi petani, dan ia menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas penetapan harga tersebut.
Kehadiran Bulog di lapangan juga bertujuan untuk meminimalkan peran tengkulak. Tengkulak seringkali memanfaatkan kondisi ketika kualitas panen menurun atau saat panen serentak di berbagai daerah untuk menekan harga gabah dari petani. Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Wastam Priyatna, menjelaskan bahwa pada masa panen April lalu, faktor cuaca dan panen serentak menyebabkan kualitas gabah menurun dan petani kesulitan menjual hasil panen mereka.