bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, China menyatakan kesiapannya untuk mengambil tindakan balasan tegas demi melindungi kepentingannya jika Amerika Serikat (AS) terus melanjutkan kebijakan larangan impor robot dan inverter daya baru buatan China. Kementerian Perdagangan China pada Kamis (30/7) mendesak AS untuk segera mencabut langkah-langkah tersebut dan menghentikan apa yang mereka sebut sebagai 'tindakan keliru'.
Menurut Kementerian Perdagangan China, kebijakan yang dikeluarkan oleh Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) pada Selasa (28/7) tersebut bersifat diskriminatif dan menekan perusahaan serta produk asal China. Kebijakan FCC ini dilaporkan bertujuan untuk melindungi pengembangan kecerdasan buatan (AI) AS dari ancaman keamanan nasional dan memindahkan kembali industri-industri kunci yang diprediksi akan mengalami pertumbuhan pesat.
China menuduh AS telah mengabaikan pernyataan berulang kali dari Beijing dan justru terus memperketat pembatasan. Kementerian tersebut menganggap AS telah menggeneralisasi konsep keamanan nasional, yang menurut mereka merupakan 'distorsi pasar dan perilaku intimidasi sepihak' yang mengabaikan kepentingan industri kedua negara.
Sebelumnya, Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, pada Rabu (29/7) berpendapat bahwa proteksionisme tidak akan meningkatkan daya saing AS, melainkan hanya akan merugikan kepentingan perusahaan dan konsumen Amerika. Ia menegaskan bahwa China akan terus mengambil langkah yang diperlukan untuk mempertahankan hak dan kepentingan sah perusahaan-perusahaan China.
FCC pada Selasa (27/7) memang memperbarui daftar perangkat yang dibatasi dengan memasukkan dua kategori baru: 'perangkat robotik canggih' yang mencakup robot bergerak seperti humanoid dan robot berkaki empat, serta inverter daya yang diproduksi di luar negeri. FCC mengklaim perangkat tersebut berpotensi menimbulkan kerentanan rantai pasok yang dapat mengganggu keamanan ekonomi dan nasional AS, serta menciptakan risiko keamanan siber.
Namun, para pengamat industri di China berpendapat lain. Xiang Ligang, seorang pengamat senior industri telekomunikasi, menilai larangan tersebut justru akan memaksa perusahaan AS beroperasi secara tertutup dan memperlambat inovasi. Zhang Xiaorong, Direktur Cutting-Edge Technology Research Institute, menambahkan bahwa isolasi semacam ini akan menghambat proses pembelajaran dan perbandingan teknologi di bidang baru seperti robot humanoid yang masih dalam tahap awal pengembangan.
Zhang juga menyoroti pentingnya inverter daya sebagai komponen krusial untuk pusat data AI dan integrasi energi terbarukan. Ia memperingatkan bahwa penolakan produk China yang lebih hemat biaya dapat meningkatkan biaya listrik dan memperlambat kemajuan AI akibat kendala pasokan atau harga. Xiang Ligang turut menambahkan bahwa sistem energi AS saat ini masih menghadapi masalah pasokan listrik yang terbatas untuk mendukung perkembangan AI, sehingga tidak menggunakan inverter China yang lebih terjangkau bukanlah langkah yang bijak.