bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, peneliti di China dilaporkan telah mencapai kemajuan signifikan dalam pengembangan reaktor fusi nuklir Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST). Tim peneliti berhasil melampaui batas kepadatan plasma yang selama ini menjadi kendala dalam eksperimen fusi global.
Keberhasilan ini diklaim dapat meningkatkan efisiensi reaksi fusi secara substansial, mendekatkan ambisi China untuk menciptakan sumber energi bersih tak terbatas melalui proyek 'matahari buatan'. Reaktor EAST beroperasi dengan menggunakan medan magnet superkonduktor untuk menahan plasma bersuhu sangat tinggi demi memicu reaksi fusi.
Secara teori, produksi energi bersih yang besar memerlukan peningkatan kepadatan plasma. Namun, upaya global sebelumnya terbentur pada 'Limit Greenwald', yaitu batas kepadatan ekstrem yang jika terlampaui dapat menyebabkan plasma menjadi tidak stabil, pecah, dan merusak dinding reaktor.
Menurut informasi dari cnnindonesia.com, Institut Fisika Plasma di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China mengidentifikasi partikel logam tungsten sebagai penyebab utama ketidakstabilan plasma. Partikel ini tererosi dari dinding reaktor dan mencemari plasma.
Untuk mengatasi masalah ini, para ilmuwan China menerapkan strategi teknis yang meliputi penerapan model interaksi Boundary Plasma-Wall Interaction Self-Organization (PWSO) dan menggabungkannya dengan sistem pemanasan resonansi siklotron elektron. Kombinasi ini terbukti efektif dalam mengisolasi efek negatif partikel tungsten di tepi plasma.
Dengan pendekatan ini, plasma berhasil diarahkan ke zona aman yang disebut 'density free zone', memungkinkan reaktor beroperasi melampaui batas tradisional tanpa menimbulkan kerusakan serius. Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances ini menawarkan panduan baru untuk pengembangan reaktor fusi berdensitas tinggi di masa depan, meskipun implementasi komersialnya masih memerlukan waktu.