bytedaily
Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:05 WIB

Citra NASA Tunjukkan Konsentrasi Karbon Monoksida Tinggi di Atmosfer Indonesia

Redaksi 20 Oktober 2026 2 views
Citra NASA Tunjukkan Konsentrasi Karbon Monoksida Tinggi di Atmosfer Indonesia
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, citra satelit NASA menunjukkan konsentrasi karbon monoksida (CO) yang tinggi di atmosfer Indonesia. Namun, data tersebut menggambarkan kondisi pada ketinggian sekitar 5.500 meter sehingga belum dapat digunakan untuk menentukan risiko keracunan bagi warga.

Peta pada platform Eyes on the Earth NASA, yang dipantau CNNIndonesia.com pada Jumat (16/10), memperlihatkan warna merah tua di atmosfer dari Sumatra hingga Papua. Warna itu menandakan konsentrasi CO berada di bagian atas skala pemetaan. Kondisi tersebut terpantau sejak awal Oktober.

Sebaran CO diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan. NASA menyebut karhutla sebagai salah satu sumber gas tersebut, selain kendaraan bermotor, gunung berapi, serta pembakaran kayu dan bahan bakar fosil yang tidak sempurna.

Menurut laman Kementerian Kesehatan, CO yang terhirup dapat berikatan dengan hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen. Ikatan itu membentuk karboksihemoglobin atau COHb dan menghambat kemampuan darah mengangkut oksigen, sehingga jaringan tubuh berisiko mengalami hipoksia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjelaskan bahwa hemoglobin berikatan lebih kuat dengan CO daripada dengan oksigen. Akibatnya, fungsi organ yang memerlukan banyak oksigen, terutama otak dan jantung, dapat terganggu. Kemenkes juga menyebut paparan CO bisa memperburuk kekurangan oksigen pada otot jantung, terutama pada orang dengan riwayat penyakit jantung koroner.

Karbon monoksida tidak berwarna dan tidak berbau, sehingga keberadaannya sulit diketahui. BPOM menyebut gas ini sebagai silent killer. Gejala keracunan dapat menyerupai gangguan kesehatan lain, seperti sakit kepala, mual, muntah, kelelahan, pusing, dan sesak napas.

Pada paparan yang lebih berat, korban dapat mengalami kebingungan, gangguan penglihatan, kehilangan koordinasi gerak, hingga penurunan kesadaran. Kondisi itu dapat berkembang menjadi kejang, koma, dan kematian.

CO juga dapat menjadi ancaman di dalam rumah. Kemenkes menyebut kompor gas, pemanas berbahan bakar minyak tanah, serta tungku atau cerobong yang bocor sebagai kemungkinan sumber paparan. BPOM turut mengingatkan bahwa gas buang kendaraan dapat masuk ke kabin jika terjadi kebocoran dan ventilasi tidak memadai. Mesin kendaraan yang menyala di garasi tertutup juga dapat menyebabkan keracunan.

Jika seseorang diduga keracunan CO, BPOM menyebut pertolongan awal mencakup memindahkan korban dari sumber gas dan memberikan oksigen murni. Penanganan oleh tenaga medis perlu segera dilakukan dengan tetap memperhatikan keselamatan penolong.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.