bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, DANA Indonesia mengidentifikasi bahwa sejumlah besar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia masih belum mengadopsi layanan pembayaran digital seperti QRIS. Fenomena ini menjadi salah satu hambatan signifikan dalam upaya mempercepat digitalisasi sektor usaha kecil di tanah air.
Menurut Director of Communications DANA Indonesia, Olavina Harahap, temuan ini didapatkan dari peserta program SisBerdaya dan DisBerdaya 2026 yang melibatkan lebih dari 6.800 UMKM yang dijalankan oleh perempuan dan perempuan penyandang disabilitas dari berbagai wilayah. "Bahkan peserta-peserta yang ikut program ini, yang kami minta punya QRIS supaya bisa jualan, belum semuanya memiliki. Padahal itu salah satu bagian penting dari digitalisasi keuangan," ungkap Olavina dalam acara di Jakarta, Jumat (26/6).
Olavina menekankan pentingnya penggunaan pembayaran digital bagi UMKM di era modern. Ia menyatakan bahwa semakin banyak konsumen yang memilih metode transaksi nontunai. "Kalau mereka tidak punya layanan keuangan digital, bagaimana orang mau membeli? Sekarang orang sudah lebih senang menggunakan QRIS," jelasnya. Selain masalah adopsi QRIS, DANA juga mencatat bahwa banyak UMKM masih kesulitan dalam mengelola administrasi keuangan. Praktik pencampuran keuangan pribadi dan usaha, serta ketiadaan pencatatan arus kas yang rapi, masih kerap ditemui.
Menanggapi hal tersebut, DANA memasukkan materi pengelolaan keuangan digital sebagai komponen utama dalam program SisBerdaya. "Kami mengajarkan bagaimana mengatur keuangan secara digital untuk UMKM. Itu penting karena dari sana mereka bisa memiliki pencatatan yang lebih baik dan ke depan akan lebih mudah mengakses pembiayaan," tutur Olavina. Peserta juga didorong untuk memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai legalitas usaha dan memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan pemasaran. DANA berencana untuk memfasilitasi akses pembiayaan bagi UMKM yang telah terintegrasi dalam ekosistem digital melalui layanan DANA Bisnis, meskipun implementasinya masih bertahap.
Program SisBerdaya, yang dimulai DANA bersama Ant International Foundation sejak 2023, bertujuan meningkatkan kapasitas UMKM perempuan melalui pelatihan, pendampingan, dan pemanfaatan teknologi. Pada tahun 2024, program ini diperluas dengan DisBerdaya yang ditujukan bagi perempuan penyandang disabilitas, menjaring lebih dari 6.800 peserta tahun ini. Sebanyak 35 finalis terpilih untuk mengikuti mentoring intensif dan berpeluang mendapatkan bantuan pengembangan usaha senilai total Rp750 juta. Berdasarkan evaluasi DANA, peserta program tercatat mengalami peningkatan pendapatan rata-rata 113 persen dan pertumbuhan produksi 126 persen dalam enam bulan setelah menerima pendampingan. Sektor makanan dan minuman menjadi kategori usaha yang paling banyak diminati peserta tahun ini (52 persen), disusul fesyen dan aksesori (23,3 persen), serta kerajinan tangan (8,8 persen).