bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengusulkan perubahan istilah "Artificial Intelligence" (AI) dengan tiga alternatif nama: Superior Intelligence (SI), Extreme Intelligence (EI), dan Supreme Intelligence (SI). Dalam sebuah unggahan di akun X-nya pada Sabtu, 19 Agustus, Trump mengkritik istilah AI yang dianggapnya kurang tepat dan kaku, lalu menawarkan tiga sebutan baru yang menurutnya lebih elegan.
Trump kemudian memindahkan usulannya ke platform media sosial miliknya, Truth Social, dan membuka polling untuk menilai nama mana yang paling cocok. Dalam proses tersebut, ia menyingkirkan opsi Supreme Intelligence, sehingga hanya tersisa Superior Intelligence dan Extreme Intelligence. Menurut pemantauan CNNIndonesia pada Senin, 21 September, pilihan Extreme Intelligence memperoleh dukungan terbanyak dengan 50,2 persen suara.
Dalam postingannya, Trump menekankan pentingnya partisipasi publik dalam pemilihan nama tersebut, menyebutnya sebagai bagian dari "revolusi" yang terus berkembang. Ia juga menolak anggapan bahwa kecemasan masyarakat terhadap AI merupakan "hoaks", mengingatkan bahwa pemerintahannya tidak berniat menghambat perkembangan teknologi ini.
Berita lain menyebut Trump berencana bertemu dengan para pemimpin perusahaan AI pada pekan ini, namun perwakilan Gedung Putih mengonfirmasi belum ada jadwal resmi untuk pertemuan tersebut. Sementara itu, CEO Anthropic Dario Amodei dan CEO OpenAI Sam Altman baru-baru ini menyatakan bahwa pengembangan AI sebaiknya diperlambat, menyusul peringatan seorang peneliti Anthropic tentang potensi bahaya AI di akhir dekade ini.
Di tingkat negara bagian, Gubernur California Gavin Newsom mengeluarkan perintah eksekutif pada Jumat, 18 September, untuk membentuk tim khusus yang akan meninjau dan memperketat regulasi keselamatan AI di California. Selain itu, laporan dari seorang analis militer AS mengindikasikan penggunaan AI dalam operasi militer pekan lalu, yang hampir memicu ketegangan antara Amerika Serikat dan China.