bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, dukungan terhadap Gianni Infantino sebagai calon presiden FIFA mengalami penurunan menjelang pemilihan. Hal ini dipicu oleh isu penjualan saham Piala Dunia.
Situasi semakin memanas dengan mundurnya Chief Operating Officer FIFA, Kevin Lamour. Lamour diketahui sempat menyampaikan kritikan terhadap rencana program Infantino terkait penjualan saham Piala Dunia dan turnamen lainnya. Keputusan Lamour untuk hengkang ini dilaporkan memicu perubahan sikap dari beberapa petinggi FIFA, termasuk Sandor Csanyi, salah satu wakil presiden FIFA dan anggota Dewan FIFA.
Dalam pernyataannya kepada Infantino, Csanyi menyebut pemecatan Lamour sebagai puncak dari masalah. Csanyi menilai Lamour adalah sosok yang dapat diandalkan dan profesional, serta berkontribusi signifikan pada operasional yang transparan. Ia juga menekankan bahwa pemecatan Lamour yang dipicu oleh kritiknya dapat menimbulkan konsekuensi serius terhadap penilaian profesional, standar etik, dan kepemimpinan.
Penurunan dukungan terhadap Infantino juga disampaikan oleh Dejan Savicevic, Presiden Federasi Sepak Bola Montenegro dan anggota Dewan FIFA. Savicevic mengungkapkan kekhawatirannya terhadap rencana pengembangan program FIFA yang dinilainya menunjukkan buruknya pola komunikasi dan transparansi, baik untuk asosiasi anggota, Dewan FIFA, maupun struktur internal lainnya.
Meskipun demikian, tidak semua pihak mencabut dukungannya. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) melalui Ketua Umumnya, Erick Thohir, menegaskan komitmen untuk mendukung Gianni Infantino agar tetap menjabat sebagai presiden FIFA.
Pemilihan presiden FIFA dijadwalkan akan berlangsung dalam Kongres FIFA di Rabat, Maroko, pada 17 Maret 2027. Gianni Infantino menjadi salah satu kandidat kuat, bersaing dengan nama-nama lain seperti Victor Montagliani, Aleksander Ceferin, dan Lise Klaveness.