bytedaily
Minggu, 18 Oktober 2026 - 04:36 WIB

El Niño Kuat dan IOD Positif Berpotensi Mengacaukan Cuaca Global pada September

Redaksi 15 September 2026 19 views
El Niño Kuat dan IOD Positif Berpotensi Mengacaukan Cuaca Global pada September
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sebuah studi mengidentifikasi bahwa El Niño yang sedang menguat di Samudra Pasifik berpeluang berinteraksi dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia sekitar bulan September, yang dapat menimbulkan gangguan pada pola cuaca global dan regional.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menilai terdapat peluang 90 % bahwa tahun 2026 akan menyaksikan El Niño terkuat dalam 150 tahun terakhir, bersamaan dengan kondisi IOD positif.

Menurut Ankur Srivastava, ahli pemodelan iklim di Institut Meteorologi Tropis India, sekitar sepertiga kejadian IOD positif dipicu oleh El Niño yang muncul terlambat pada musim panas India, pola yang juga terlihat pada tahun ini.

IOD merupakan perbedaan suhu antara bagian barat dan timur Samudra Hindia tropis, yang memengaruhi curah hujan serta pola angin di wilayah sekitarnya.

Srivastava menekankan bahwa dampak pertemuan El Niño dan IOD positif di Asia Selatan sangat tergantung pada intensitas masing‑masing fenomena serta keberadaan sistem cuaca lain pada periode yang sama.

Ia menjelaskan bahwa monsun India sempat mengalami defisit curah hujan akibat El Niño pada Juli‑Agustus. Bila IOD positif berkembang cukup kuat, ia dapat menambah kelembapan dan menyeimbangkan defisit tersebut pada akhir musim; sebaliknya, bila IOD tidak menguat, risiko kekeringan berkepanjangan meningkat.

Departemen Meteorologi India mengonfirmasi bahwa pengaruh El Niño telah mendominasi sejak awal musim monsun, sehingga potensi pemulihan oleh IOD positif mungkin terbatas pada akhir musim.

El Niño yang sangat kuat juga dapat memperpanjang jeda monsun, meningkatkan ancaman banjir bandang dan tanah longsor bila hujan intens turun secara tiba‑tiba. Srivastava menambahkan bahwa wilayah Himalaya dan kaki bukitnya tetap rentan terhadap curah hujan tinggi dan longsor, bahkan pada musim yang lebih kering dari rata‑rata.

Swadhin Behera dari Japan Agency for Marine‑Earth Science and Technology (JAMSTEC) menyatakan bahwa prediksi cuaca di India menjadi lebih kompleks karena interaksi antara El Niño, IOD, serta proses lain seperti interaksi darat‑atmosfer, dataran tinggi Himalaya‑Tibet, Madden‑Julian Oscillation (MJO), dan faktor regional lainnya.

Studi JAMSTEC mengungkap bahwa pengaruh ENSO (El Niño‑Southern Oscillation) terhadap curah hujan monsun India telah kembali meningkat pada dekade ini dibandingkan dekade‑dekade sebelumnya yang lebih lemah. Kalpesh Ravindra Patil, ilmuwan iklim JAMSTEC, menambahkan bahwa pengaruh IOD bersifat sangat variabel antar wilayah dan waktu, berbeda dengan sinyal ENSO yang kini kembali muncul.

Penelitian tersebut juga menemukan sinyal laut signifikan dari Samudra Hindia bagian selatan dan timur yang berpengaruh pada curah hujan di India selatan dan barat. Ross Salawitch dari University of Maryland mencatat bahwa dampak gabungan El Niño dan IOD positif bervariasi tergantung pada wilayah yang terkena.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.