bytedaily
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:33 WIB

El Nino 2026 Perpanjang Kemarau, 1.637 Titik di Indonesia Tanpa Hujan Lebih dari 60 Hari

Redaksi 22 September 2026 15 views
El Nino 2026 Perpanjang Kemarau, 1.637 Titik di Indonesia Tanpa Hujan Lebih dari 60 Hari
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa fenomena El Nino pada tahun 2026 telah menyebabkan 1.637 titik pengamatan di seluruh Indonesia mengalami hari tanpa hujan (HTH) selama lebih dari 60 hari.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyatakan bahwa secara historis El Nino memperpanjang musim kemarau, terutama di wilayah selatan khatulistiwa, sehingga menimbulkan kekeringan yang signifikan.

Hasil pemantauan musim menunjukkan bahwa sebanyak 556 zona musim (ZOM), yang mencakup 61,91 persen luas daratan Indonesia, kini berada dalam kondisi musim kemarau.

Data analisis mengungkapkan bahwa 1.637 titik melaporkan HTH lebih dari 60 hari, dengan catatan terpanjang terjadi di Bantul selama 131 hari atau lebih dari empat bulan. Selain itu, 384 titik mencatat HTH antara 21-30 hari, dan 872 titik mencatat HTH antara 31-60 hari.

Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, menambahkan bahwa El Nino 2026 juga memicu periode kemarau pada beberapa zona yang biasanya menerima hujan sepanjang tahun.

Menurut BMKG, terdapat 113 ZOM atau 33,68 persen wilayah Indonesia yang tergolong tipe satu musim, terdiri dari 3 zona dengan musim kemarau sepanjang tahun dan 110 zona dengan musim hujan sepanjang tahun.

Pemantauan iklim hingga awal September menunjukkan bahwa 98 ZOM mengalami periode kemarau akibat curah hujan yang lebih rendah, sementara 12 ZOM tetap pada kondisi klimatologis normal tanpa periode kemarau.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 Samudra Pasifik pada akhir Agustus tercatat +2,83, dengan indeks ENSO untuk periode Juli‑Agustus‑September (JAS) sebesar +2,63, menandakan El Nino yang sangat kuat.

Di Samudra Hindia, indeks IOD pada Agustus tercatat +0,376 dan berpotensi beralih ke fase positif hingga akhir tahun; kombinasi kedua fenomena tersebut memperparah dan memperpanjang kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga musim hujan datang lebih lambat dan berjangka lebih singkat.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.
Topik Terkait:
#teknologi #iklim #indonesia