bytedaily
Minggu, 18 Oktober 2026 - 04:38 WIB

El Nino Godzilla: Pemanasan Laut yang Dapat Memperpanjang Musim Kemarau dan Tingkatkan Risiko Kebakaran Hutan di Indonesia

Redaksi 15 September 2026 14 views
El Nino Godzilla: Pemanasan Laut yang Dapat Memperpanjang Musim Kemarau dan Tingkatkan Risiko Kebakaran Hutan di Indonesia
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Menurut laporan dari cnnindonesia.com, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menekankan bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dapat dipicu oleh fenomena El Nino Godzilla. El Nino sendiri adalah suatu kondisi pemanasan suhu permukaan laut di wilayah ekuator Samudra Pasifik, yang berakibat pada perpanjangan musim kemarau di Indonesia.

Istilah ‘Godzilla’ diberikan pada El Nino yang masuk dalam kategori sangat kuat, yakni ketika anomali suhu permukaan laut di bagian timur Pasifik ekuator naik lebih dari 2°C di atas rata‑rata normal. Penamaan ini pertama kali dipopulerkan oleh ahli klimatologi NASA, Bill Patzert, pada tahun 2015 karena potensi terjadinya El Nino terkuat sejak tahun 1950.

BMKG menyatakan bahwa istilah El Nino Godzilla tidak termasuk dalam terminologi klimatologi resmi dunia dan menganggapnya bersifat hiperbola. Meski begitu, BMKG memperkirakan bahwa fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat ini dapat berlangsung hingga awal tahun 2027.

El Nino Godzilla bukan fenomena baru; sebelumnya tercatat terjadi beberapa kali, dengan dua episode paling signifikan pada periode 1997‑1998 dan 2015‑2016. Pada kedua periode tersebut, El Nino Godzilla menyebabkan kemarau terparah dalam sejarah Indonesia dan memicu kebakaran hutan serta lahan yang menghasilkan asap tebal menyelimuti wilayah Asia Tenggara.

Dampak utama bagi Indonesia meliputi perpanjangan musim kemarau yang lebih kering serta percepatan penyebaran kebakaran hutan dan lahan yang sudah ada, menambah beban pada upaya mitigasi lingkungan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.