bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Papua Football Academy (PFA) dan Papua Athletics Center (PAC) telah beroperasi sejak Agustus 2022 berkat inisiasi serta dukungan PT Freeport Indonesia (PTFI). Kedua program ini berfokus pada penemuan dan pembinaan atlet muda yang berasal dari Papua.
Janjai Adii, Manager Sport Management PTFI, menyatakan kebanggaannya atas capaian PFA dan PAC dalam empat tahun pertama. Menurutnya, mengelola kedua program bukanlah tugas yang mudah karena harus menyiapkan talenta lokal dengan standar kompetisi regional, nasional, hingga internasional. Ia menambahkan bahwa kolaborasi dengan PSSI untuk sepak bola serta PASI untuk atletik menjadi bagian penting dalam upaya pengembangan tersebut.
Janjai menekankan bahwa tantangan utama terletak pada proses pencarian bakat anak-anak Papua. Untuk itu, PFA dan PAC menyelenggarakan turnamen mini dan kejuaraan kecil guna mengidentifikasi potensi yang belum tereksplorasi, serta memastikan bahwa atlet yang terpilih memiliki cita‑cita, bakat, dan kemampuan di bidang olahraga.
Hasil pembinaan PFA mulai terlihat, dengan sejumlah pemain yang masuk ke skuad Timnas Indonesia pada berbagai kelompok usia. Pada September 2026, tiga pemain PFA—Alfa Christiano Sawaki (Nabire), Daniel Febrianto (Merauke), dan Dicky Carthensz Marani (Jayapura)—dikirim ke pemusatan latihan Timnas U‑16 di Solo, Jawa Tengah.
Di sisi lain, PAC juga mencatat prestasi atletik yang signifikan. Atlet lempar lembing Silfanus Ndiken berhasil terpilih masuk ke tim atletik Indonesia untuk berkompetisi pada Asian Games 2026, sementara para atlet PAC lainnya telah meraih medali pada SEA Games dan kejuaraan tingkat Asia Tenggara.
Janjai menambahkan bahwa tanggapan masyarakat Papua terhadap PFA dan PAC sangat positif. Selain keberhasilan atlet dalam mengharumkan nama Papua di panggung nasional dan internasional, program ini juga dinilai berhasil mengubah perilaku serta mental para atlet muda Papua.