bytedaily
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:34 WIB

Es Abadi di Puncak Jaya Diprediksi Hilang pada Akhir 2026 Akibat Pemanasan Global

Redaksi 22 September 2026 16 views
Es Abadi di Puncak Jaya Diprediksi Hilang pada Akhir 2026 Akibat Pemanasan Global
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, lapisan es yang telah menutupi puncak Jaya Papua selama ribuan tahun diperkirakan akan menghilang karena peningkatan suhu global. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa es abadi tersebut dapat lenyap total pada akhir 2026 atau awal 2027 setelah mengalami penyusutan 2 hingga 2,5 meter per tahun dalam satu dekade terakhir.

BMKG menjelaskan bahwa kombinasi perubahan iklim global dan fenomena El Nino memperparah suhu serta mengeringkan cuaca di Indonesia, sehingga para peneliti memperkirakan es abadi di Papua hanya bertahan beberapa bulan lagi. Data tahun 1988 mencatat luas es di Puncak Jayawijaya mencapai 4,3 km², namun pada September tahun lalu hanya tersisa sekitar 2 % dari luas tersebut.

Selain luas, ketebalan es juga menurun drastis. Pada tahun 2010, tiang pengukuran menunjukkan ketebalan sekitar 32 meter, sedangkan pada 2023 ketebalan tersebut hanya sekitar 4 meter. Monitoring BMKG di Puncak Sudirman pada 2024 mencatat penurunan tutupan es sebesar 0,11–0,16 km² dibandingkan 0,23 km² pada 2022.

Laporan Climate Chronicles dalam Nature Reviews Earth & Environment edisi April 2026 menambahkan bahwa gletser dunia telah kehilangan sekitar 408 gigaton es pada 2025. Emilya Nurjani, pakar Hidrometeorologi, Iklim Perkotaan, dan Klimatologi Lingkungan dari Fakultas Geografi UGM, mengonfirmasi bahwa baik luas maupun ketebalan gletser di belahan bumi utara dan selatan mengalami penyusutan.

Menurut Emilya, dua gunung es tropis yang mengalami degradasi signifikan adalah Puncak Gunung Kilimanjaro di Afrika dan Puncak Jaya di Indonesia. Penyusutan ini dipicu oleh radiasi matahari dengan gelombang pendek; perubahan penggunaan atau penutupan lahan—seperti pertanian, pemukiman, waduk, atau beton—mengurangi albedo, sehingga lebih banyak energi matahari terperangkap di atmosfer dan mempercepat pemanasan global yang menyebabkan pencairan gletser.

Akibat mencairnya es, volume air laut akan meningkat, berpotensi menaikkan muka air laut dan mengancam wilayah pesisir rendah. Emilya menekankan bahwa dampak tersebut dapat dirasakan di daerah seperti Semarang atau pesisir utara Jawa, meskipun kenaikan muka air tidak semata-mata disebabkan oleh peningkatan volume air laut.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.