bytedaily - Melansir laporan ekonomi.republika.co.id, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga BBM bersubsidi, termasuk Pertalite dan Biosolar, tidak naik hingga akhir tahun meski harga minyak mentah dunia menembus US$107 per barel.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan pemerintah akan mempertahankan harga Pertalite saat ini sampai penghujung tahun. Ia menegaskan kebijakan tersebut juga berlaku bagi BBM bersubsidi lainnya.
Berbeda dengan BBM subsidi, harga BBM non-subsidi akan disesuaikan mengikuti mekanisme pasar. Menurut Yuliot, pemerintah akan memantau rata-rata pergerakan harga minyak dunia selama satu bulan sebagai dasar penyesuaian.
Lonjakan harga minyak global tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Yuliot menyebut harga minyak sempat mencapai US$107 per barel pada akhir September 2026, setelah sebelumnya relatif stabil pada Juni dan Juli.
Untuk mengurangi dampak ketegangan geopolitik, pemerintah akan mempercepat eksplorasi dan pengembangan migas dalam negeri. ESDM telah memetakan sejumlah lapangan yang berpotensi menghasilkan 2.500 hingga 3.000 barel per hari.
Pengembangan lapangan itu akan dipercepat pada 2027 dan 2028. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mencapai target produksi minyak satu juta barel per hari pada periode 2029–2030. Yuliot mengatakan percepatan eksplorasi dan pengembangan diharapkan mendukung pencapaian target itu.
Dari sisi fiskal, Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan defisit APBN diperkirakan tetap terkendali hingga akhir tahun. Proyeksi tersebut menggunakan asumsi rata-rata Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) sebesar US$100 per barel pada tahun ini.
Peneliti sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menghitung rata-rata ICP pada Januari hingga September 2026 sekitar US$90,60 per barel, masih di bawah asumsi tersebut.