bytedaily
Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:00 WIB

FRB Terjauh Terdeteksi dari Galaksi Muda di Alam Semesta Awal

Redaksi 15 Oktober 2026 1 views
FRB Terjauh Terdeteksi dari Galaksi Muda di Alam Semesta Awal
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, astronom mendeteksi semburan radio cepat atau fast radio burst (FRB) yang menempuh perjalanan lebih dari 10 miliar tahun sebelum mencapai Bumi. Sinyal bernama FRB 20240304B itu diyakini sebagai FRB terjauh yang pernah tercatat, dengan jarak sekitar dua kali lipat dari pemegang rekor sebelumnya.

FRB adalah semburan gelombang radio yang dalam hitungan milidetik dapat melepaskan energi setara dengan pancaran Matahari selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Fenomena ini pertama kali terdeteksi pada 2007 dan hingga kini belum diketahui pasti penyebabnya. Sejumlah teori mengaitkannya dengan magnetar, yakni bintang neutron bermedan magnet sangat kuat.

Studi yang diterbitkan di jurnal Science menyebut sinyal tersebut dipancarkan ketika alam semesta berusia sekitar 3 miliar tahun. Dengan demikian, gelombang itu telah menempuh sekitar 80 persen sejarah kosmik. Peneliti mengamati FRB menggunakan teleskop radio MeerKAT di Afrika Selatan, lalu mengidentifikasi galaksi asalnya dengan Teleskop Antariksa James Webb milik NASA.

Peneliti utama dari Universitas Sydney, Themiya Nanayakkara, mengatakan ledakan itu terjadi sebelum Bumi dan Matahari terbentuk. Data James Webb menunjukkan sumbernya adalah galaksi muda berukuran sangat kecil yang membentuk bintang dengan cepat dan memiliki sedikit logam di sekitarnya. Nanayakkara menyebut temuan tersebut menunjukkan FRB dapat dihasilkan di galaksi muda dengan kandungan logam rendah.

Sejak 2007, lebih dari 10 ribu FRB telah terdeteksi. Sebagian berulang terus-menerus, sebagian lain berulang untuk sementara lalu berhenti, dan ada pula yang hanya teramati sekali. Para peneliti belum mengetahui apakah FRB 20240304B akan terulang.

Nanayakkara mengatakan pengamatan FRB dapat membantu penelitian meski penyebab semburan itu belum diketahui. Deteksi lebih lanjut berpotensi membantu ilmuwan memetakan materi tak terlihat di alam semesta jauh. Astrofisikawan Matthew Bailes dari Swinburne University menyebut temuan tersebut menegaskan kegunaan FRB untuk menyelidiki alam semesta, termasuk memperkirakan jumlah atom dan mengukur materi yang tak terlihat melalui teleskop optik.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.