bytedaily
Rabu, 24 Juni 2026 - 22:22 WIB

Gempa M7,8 di Filipina Mengakibatkan Kenaikan Dasar Laut Hingga 2 Meter

Redaksi 14 Juni 2026 14 views
Gempa M7,8 di Filipina Mengakibatkan Kenaikan Dasar Laut Hingga 2 Meter
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,8 yang mengguncang Pulau Mindanao bagian selatan, Filipina, pada Senin (8/6) lalu, dilaporkan telah mengakibatkan kenaikan dasar laut hingga dua meter. Fenomena geologis yang dikenal sebagai coastal uplift ini menyebabkan terumbu karang tersingkap dan berdampak pada kehidupan laut di sekitarnya, sebagaimana disampaikan oleh Departemen Lingkungan Hidup Filipina pada Minggu (14/6).

Peristiwa ini pertama kali dilaporkan oleh warga lokal dua hari pasca-gempa. Lebih lanjut, dalam beberapa titik, garis pantai bahkan mengalami pergeseran hingga 200 meter menjauhi daratan. Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina menjelaskan bahwa pergeseran Palung Cotabato menjadi penyebab terdorongnya sebagian garis pantai di Provinsi Sarangani dan Davao Occidental, sehingga bagian dasar laut yang sebelumnya terendam kini terlihat jelas. Lembaga tersebut mengonfirmasi bahwa kenaikan yang terpetakan mencapai sekitar dua meter.

Palung Cotabato, yang berlokasi sekitar 50 kilometer dari pesisir selatan Mindanao, memang dikenal sebagai area dengan aktivitas seismik yang tinggi. Sebelumnya, pada Januari lalu, kawasan tersebut juga mencatat adanya ribuan gempa kecil yang beruntun. Tim yang dikerahkan ke lokasi menemukan bentangan garis pantai, terumbu karang, dan padang lamun yang kini terpapar ke permukaan akibat fenomena tersebut.

Foto-foto yang dirilis oleh departemen lingkungan Filipina menunjukkan hamparan karang yang tersingkap, bersama dengan ikan mati dan biota laut lainnya. Warga sempat melaporkan perubahan dasar laut tersebut karena kekhawatiran akan paparan asap dari organisme laut yang membusuk. Departemen lingkungan menambahkan bahwa terumbu karang dan padang lamun yang terbuka ini mulai mati, termasuk organisme yang hidup di dalamnya seperti ikan karang, belut, kerang, dan siput. Otoritas setempat masih terus memantau dampak lingkungan dari gempa ini, sembari melanjutkan upaya pencarian korban hilang yang diperkirakan masih berjumlah sekitar 40 orang.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.