bytedaily
Jumat, 21 Agustus 2026 - 20:40 WIB

Gerhana Matahari Total Terlama Abad ke-21 Akan Terlihat di Arab Saudi

Redaksi 13 Juli 2026 18 views
Gerhana Matahari Total Terlama Abad ke-21 Akan Terlihat di Arab Saudi
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir cnnindonesia.com, fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) terlama sepanjang abad ke-21 diprediksi akan menghiasi langit pada 2 Agustus 2027. Fenomena astronomi ini diperkirakan akan terlihat dengan jelas di atas Ka'bah, Mekah, Arab Saudi.

Perhitungan astronomis menunjukkan bahwa gerhana ini dapat disaksikan di sebagian besar wilayah Semenanjung Arab, dengan dampak totalitas yang berpusat di bagian barat Arab Saudi, khususnya Kota Mekah. Di kota suci tersebut, Matahari diperkirakan akan tertutup sepenuhnya oleh Bulan selama kurang lebih 5 menit pada siang menjelang sore hari, menyebabkan kegelapan total.

Menurut Arabia Weather, Mekah menjadi lokasi yang sangat strategis untuk mengamati fenomena langka ini. Saat puncak gerhana, warga berkesempatan melihat gugusan bintang dan planet yang biasanya hanya terlihat di malam hari.

Selain Mekah, gerhana yang dijuluki 'gerhana abad ini' tersebut juga akan melintasi Spanyol selatan, Maroko, dan Mesir. Kota-kota besar yang berada di jalur totalitas meliputi Cadiz dan Malaga di Spanyol, Tangier di Maroko, serta Mekah dan Jeddah di Arab Saudi. Luxor di Mesir diprediksi menjadi salah satu destinasi populer dengan durasi totalitas maksimum selama 6 menit 23 detik, sekitar 60 kilometer di tenggara kota tersebut.

Durasi gerhana pada tahun 2027 ini jauh melampaui gerhana matahari total tahun 2026 yang berlangsung selama 2 menit 18 detik, serta gerhana Amerika Utara pada April 2024 yang bertahan selama 4 menit 28 detik. Secara teori, gerhana matahari total terpanjang yang mungkin terjadi adalah sekitar tujuh setengah menit, yang memerlukan kombinasi posisi Matahari di titik apogee, Bulan di titik perigee, dan jalur totalitas melintasi ekuator.

Kelly Korreck, ilmuwan program gerhana di Markas Besar NASA, menyatakan bahwa Bumi adalah satu-satunya planet yang diketahui mengalami jenis gerhana matahari seperti ini, di mana Bulan memiliki ukuran dan jarak yang sempurna untuk menciptakan fenomena yang istimewa.

Bagi pengamat di jalur totalitas, pengalaman ini tidak hanya menawarkan pemandangan visual. Suhu udara dapat turun hingga 10 derajat Celsius saat Matahari tertutup Bulan, dan bintang-bintang terang serta beberapa planet akan tampak. Selama fase totalitas, korona, lapisan terluar atmosfer Matahari yang biasanya tak terlihat, akan tampak sebagai filamen cahaya tipis yang memanjang ke segala arah.

Korreck menambahkan bahwa meskipun otak manusia cenderung menafsirkan gerhana sebagai sesuatu yang aneh dan dapat menimbulkan kecemasan karena kegelapan yang tidak biasa, pengalaman menyaksikan totalitas dan keindahan korona Matahari sangat menakjubkan dan membuat orang ingin mengalaminya lagi. Untuk keselamatan, penggunaan kacamata gerhana khusus yang memenuhi standar internasional ISO 12312-2 wajib digunakan di luar fase totalitas.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.