bytedaily
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 02:14 WIB

Google Uji Chip AI di Orbit Lewat Project Suncatcher

Redaksi 25 September 2026 14 views
Google Uji Chip AI di Orbit Lewat Project Suncatcher
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir cnnindonesia.com, Google dijadwalkan mengirim satelit purwarupa ke orbit pekan depan untuk menguji chip kecerdasan buatan (AI) dalam Project Suncatcher. Uji coba ini menjadi tahap awal riset perusahaan untuk mengembangkan infrastruktur komputasi AI di luar angkasa.

Project Suncatcher dirancang untuk mempelajari pemanfaatan sinar Matahari sebagai sumber energi bagi komputasi AI yang membutuhkan daya besar. Langkah ini juga berkaitan dengan keterbatasan pasokan listrik di Bumi.

Menurut laporan Reuters pada Kamis (24/9), satelit tersebut dijadwalkan terbang dalam misi Transporter-18 milik SpaceX bersama sejumlah muatan lain, termasuk satelit Planet Labs. Misi itu akan menguji ketahanan perangkat keras AI Google terhadap getaran saat peluncuran, radiasi, dan suhu ekstrem di orbit rendah Bumi (LEO).

Satelit purwarupa tersebut membawa Tensor Processing Units (TPU) Google. Selama berada di orbit, perangkat itu akan diuji untuk mengetahui apakah mampu beroperasi dengan stabil dan andal dalam kondisi luar angkasa.

Radiasi menjadi salah satu kendala yang perlu dihadapi karena dapat mengganggu perangkat elektronik dan memicu kesalahan data, termasuk fenomena bit flip. Google sebelumnya telah menguji TPU untuk menjalankan beban kerja AI di fasilitas University of California, Davis. Namun, perusahaan menyatakan pengujian langsung di orbit tetap dibutuhkan untuk memahami kinerja chip dalam lingkungan sebenarnya.

Pendinginan chip juga menjadi tantangan. Aliran udara tidak dapat digunakan di ruang hampa, sehingga Google mengandalkan pipa penghantar panas dan radiator untuk membuang panas dari TPU.

Sejumlah pakar menilai teknologi ini masih memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum dapat digunakan secara komersial. Biaya peluncuran yang tinggi, tantangan rekayasa, dan kapasitas produksi satelit yang terbatas menjadi hambatan utama.

Google menyebut misi perdana Project Suncatcher bertujuan mengumpulkan data selama satelit berada di orbit dan menemukan kemungkinan titik kegagalan. Misi tersebut belum dirancang untuk langsung menjalankan pusat data di luar angkasa.

Google menargetkan peluncuran dua satelit lanjutan pada 2027. Keduanya akan digunakan untuk menguji koneksi laser berkecepatan tinggi yang diperlukan untuk menghubungkan kluster komputasi di masa mendatang.

Perusahaan mengumumkan Project Suncatcher pada November 2025 sebagai riset jangka panjang untuk mengeksplorasi potensi luar angkasa sebagai lokasi infrastruktur machine learning dan AI yang dapat dikembangkan secara fleksibel. Google menyatakan satelit di orbit rendah Bumi berpotensi menerima paparan sinar Matahari hampir terus-menerus dan menghasilkan energi surya hingga delapan kali lebih banyak dibandingkan sistem di Bumi.

Dalam rencana tersebut, beberapa konstelasi satelit dapat saling terhubung untuk menangani beban kerja AI yang lebih besar langsung dari orbit. Google mengatakan salah satu tujuan proyek ini adalah memastikan manfaat AI dapat dirasakan semua orang.

Gagasan pusat data orbital juga mendapat perhatian perusahaan teknologi di tengah meningkatnya kebutuhan listrik dan air untuk mendinginkan server di Bumi. Elon Musk dan Jeff Bezos sebelumnya turut menyampaikan ambisi membangun pusat data AI di luar angkasa.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.